Homepage > Transportasi > Transportasi Udara > Radar ADS-B BPPT, Solusi Dunia Aviasi Nasional
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

Data Pengunjung
Registered users : 5
Online : 911
Guest : 911
Members : 0

Radar ADS-B BPPT, Solusi Dunia Aviasi Nasional

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

JAKARTA - Sebagian besar bandara di Indonesia belum memiliki "mata" untuk memantau pergerakan pesawat. Dari 237 bandar udara di Indonesia, baru 31 bandara yang menggunakan perangkat radar ADS-B  (Automatic Dependent Surveillance Broadcast). Sisanya masih menggunakan voice communication saat berkomunikasi dengan pilot.

Padahal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memiliki inovasi radar ADS-B yang canggih namun harganya jauh lebih terjangkau. Inovasi BPPT ini mengedepankan dan menerapkan teknologi terkini. Alat navigasi ini berbasis software open source sehingga mudah dalam pemeliharaan.

Direktur Pusat Teknologi Elektronika BPPT, Yudi Purwantoro mengatakan 90% radar yang digunakan bandara-bandara Indonesia diimpor dari luar negeri. Harganya empat kali lebih mahal dari ADS-B buatan BPPT. "Dengan kemampuan yang sama, kita dapat memberikan fasilitas radar pada empat bandara. Jadi ada efisiensi cost," kata Yudi dalam acara Media Gathering BPPT di Jakarta, Jumat (25/6/2016).

Sistem navigasi berbasis ADS-B merupakan alternatif dari radar yang selama ini digunakan di dunia penerbangan. Melalui sinyal satelit GPS, pesawat secara otomatis memancarkan informasi atau data-data terkait navigasi dan dipancarkan ke semua penjuru. “Siapa saja yang memiliki perangkat yang bisa menangkap sinyal yang dipancarkan oleh pesawat akan mengetahui posisi pesawat,” terang Yudi.

Sementara radar hanya berfungsi kalau memancarkan sinyal dan dikembalikan oleh pesawat. Jangkauan radar terbatas, sementara ADS-B jangkauannya lebih lebih luas. Perangkat ADS-B juga lebih simple karena menggunakan antena kecil , receiver, dan display. Sementara radar memerlukan space besar dan pemeliharaan yang rumit secara berkala. Karena itu, ADS-B disebut teknologi masa depan untuk navigasi udara.

Menurut Yudi, teknologi ini mampu memantau pergerakan pesawat ketika sedang melakukan approach pendaratan, saat mendarat, maupun ketika bergerak di sekitar terminal. Radar ADS-B juga mampu memantau kendaraan bergerak lainnya di bandara, sehingga kejadian tabrakan pesawat bisa dihindari.

Sistem ADS-B yang dikembangkan BPPT sasarannya digunakan untuk fase penerbangan dibawah ketinggian 29.000 kaki. Karena di atas 29.000 kaki sudah ada ADS-B yang dibeli dari negara lain. Penggunaan yang lebih luas nanti adalah di level ke bawah hingga di bandara. “Semua jenis kendaraan yang ada di bandara juga akan dipantau pergerakannya,” lanjut Yudi.

Yudi menerangkan, konsep sistem ADS-B dikembangkan BPPT dalam kurun waktu 2006-2007. Kemudian dilakukan pembuatan prototipe sistem ADS-B dilakukan pada 2007-2014. Pada proses industrialisasi modul ADS-B Receiver pada 2015 menghasilkan ADS-B Receiver BPPT-INTI.

Saat ini BPPT tengah berupaya agar receiver ADS-B mendapat sertifikasi dan memenuhi standar internasional. Tahun 2017, BPPT mentargetkan ADS-B dapat memantau semua kendaraan yang ada di bandara. Sementara, uji operasional ADS-B BPPT telah dilakukan di Bandara Semarang sejak 2012 dan Bandung sejak 2014. Selama uji operasional tersebut, Airnav Indonesia menyatakan manfaat dan kehandalan perangkat ADS-B BPPT.

Dalam persiapan proses sertifikasi, BPPT bekerjasama dengan PT INTI telah melakukan uji laboratorium. Hasilnya, deviasi akurasi posisi pesawat meleset 3 meter, masih memenuhi syarat karena toleransi standarnya 8 meter. ADS-B bisa mendeteksi pesawat dalam jarak hingga 200 nmi dan ketinggian 33 ribu kaki. ADS-B juga mampu memproses 200 pesawat secara simultan. “Bandara Soeta sebagai bandara tersibuk di Indonesia, jumlah pesawat yang dipantau secara simultan sebanyak 70-80 pesawat,” terang Yudi.

Dalam persiapan sertifikasi selanjutnya, BPPT akan melakukan uji trial lapangan di 6-7 bandara Papua selama 3 bulan (setara dengan persyaratan 13.000-15.000 jam). BPPT juga akan melakukan integrasi ADS-B Receiver BPPT-INTI ke Testbed E-JAATS milik Airnav selama 2 bulan.  Selain itu akan dilakukan uji laboratorium untuk mensimulasikan apakah dalam kondisi cuaca ekstrim, sistem ADS-B masih berfungsi.

Yudi berharap teknologi ini siap diaplikasikan setelah sertifikasi dan ada industri nasional yang mau melakukan komersialisasi. Ia juga berharap dukungan semua pihak dan pemangku kebijakan khususnya dalam hal regulasi. “Semoga teknologi navigasi udara karya anak bangsa ini segera menjadi solusi bagi dunia aviasi nasional,” pungkas Yudi.

 

 

 

Artikel Terkait

Pacu Inovasi, Kementerian Ristek Bangun Strategi Kebersamaan

Pacu Inovasi, Kementerian Ristek Bangun Strategi Kebersamaan

Sebagai upaya mensinergikan antara sisi penyedia dan sisi pengguna Iptek, Kementerian Riset dan... READ_MORE
Kamis, 01 Juli 2010 11:02
 Liliana Yetta Pandi, Dra

Liliana Yetta Pandi, Dra

  ... READ_MORE
Selasa, 16 Maret 2010 21:50
Asep Karsidi Jabat Kepala Bakosurtanal

Asep Karsidi Jabat Kepala Bakosurtanal

Menristek Suharna Surapranata hari ini melantik Dr. Asep Karsidi sebagai Kepala Badan Koordinasi... READ_MORE
Selasa, 15 Juni 2010 16:12
Siswa SD se-Jabodetabek Kunjungi PP IPTEK

Siswa SD se-Jabodetabek Kunjungi PP IPTEK

Jakarta : Pusat  Peragaan Iptek (PP-IPTEK) menjadi bagian program acara ”Ayo Ke Museum Bersama Ibu... READ_MORE
Kamis, 17 Juni 2010 16:07
Deteksi Jantung Melalui Treadmill Test

Deteksi Jantung Melalui Treadmill Test

Jakarta : Treadmill test hingga kini kerap diabaikan dalam proses medical check up penyakit jantung ... READ_MORE
Selasa, 15 Juni 2010 14:07
Goyangan Gempa di Jakarta Utara Lebih Terasa

Goyangan Gempa di Jakarta Utara Lebih Terasa

DKI diguncang gempa. Warga DKI Jakarta sontak panik. Untungnya, hal itu baru dugaan dari seseorang... READ_MORE
Senin, 06 Juni 2011 10:24
Biogas dari Limbah Tahu

Biogas dari Limbah Tahu

Kementerian Riset dan Teknologi melalui Program Pengendalian Dampak Perubahan Iklim membuat proyek... READ_MORE
Jumat, 14 May 2010 12:01
BPPT Mengganti Empat Deputi

BPPT Mengganti Empat Deputi

Jakarta : Empat pejabat Kedeputian Badan Pengkajian Penerapan Teknologi  (BPPT) diganti. Pelantikan... READ_MORE
Rabu, 16 Juni 2010 19:19

Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan

Ketahanan pangan selalu dikaitkan dengan masalah kekurangan gizi. Masalah kurang gizi ini bukan... READ_MORE
Selasa, 09 April 2013 10:39

2oo Pelajar Dikenalkan Budaya Iptek

Kementerian Riset dan Teknologi merangkul generasi muda untuk terwujudnya pengembangan  budaya iptek... READ_MORE
Senin, 29 Oktober 2012 11:50
Batan melantik Deputi PTDBR Baru

Batan melantik Deputi PTDBR Baru

                        Jakarta : Dr Djarot Sulistio Wisnusubroto dilantik sebagai Dep... READ_MORE
Kamis, 17 Juni 2010 15:03

Ini Dia, Sepeda Motor Berbahan Bakar Air Plus

Ternyata bukan isapan jempol air bisa menjadi bahan bakar. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU... READ_MORE
Rabu, 06 Juni 2012 15:15

BIG Dukung Kebutuhan Informasi Geospasial Tematik Kemenkokesra

Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Indroyono Soesilo mengatakan Kementerian... READ_MORE
Selasa, 27 November 2012 16:52

Anggota DPR RI Azwir Dainy Tara: Perhatian Pemerintah Masih Belum Maksimal

Minimnya anggaran yang tersedia untuk kegiatan Riset dan Teknologi (Ristek), menjadi salah satu... READ_MORE
Kamis, 21 Juni 2012 11:39
KLIBS Usung Anastesi Lokal untuk Bantu Orang Miskin

KLIBS Usung Anastesi Lokal untuk Bantu Orang Miskin

Dunia kedokteran sudah lama mengenal  anastesi lokal atau bius lokal. Namun penerapan bius... READ_MORE
Selasa, 05 April 2011 15:37
Titik Terang Mencari 'Bumi Tandingan'

Titik Terang Mencari 'Bumi Tandingan'

Setelah lima tahun mencari, peneliti NASA akhirnya menemuka dua planet yang paling mirip Bumi.... READ_MORE
Rabu, 07 Januari 2015 18:03
Indonesia Peringkat ke-3 Jumlah Penderita Hepatitis

Indonesia Peringkat ke-3 Jumlah Penderita Hepatitis

Jakarta : Indonesia menempati peringkat ketiga dunia setelah China dan India untuk jumlah penderita... READ_MORE
Rabu, 28 Juli 2010 16:09

Teknologi Aquaponik di Lahan Sempit

Upaya menambah luasan lahan pertanian sebagai solusi peningkatan ketahanan pangan masih menemui... READ_MORE
Selasa, 11 Februari 2014 13:01
BIT BPPT Dorong Tumbuhnya Teknoprenur baru

BIT BPPT Dorong Tumbuhnya Teknoprenur baru

Jakarta- Kurangnya fasilitas pemerintah dalam mendorong iklim usaha, regulasi yang menunjang dan... READ_MORE
Senin, 18 April 2011 10:19
Masyarakat Indonesia Kekurangan Air Bersih

Masyarakat Indonesia Kekurangan Air Bersih

Dari 92 daerah terluar di Indonesia, 64 diantaranya merupakan daerah sulit air bersih. Selain it... READ_MORE
Kamis, 15 Maret 2012 16:16

Umum

article thumbnail Ecodome, Wahana Baru di Kebun Raya Bogor
Rabu, 15 November 2017 | Setiyo Bardono

Ecodome, wahana baru di Kebun Raya Bogor (Foto Humas LIPI)   Technology-Indonesia.com - Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PKT...

Review

article thumbnail Kembali Menanti Energi Alternatif
Jumat, 19 Maret 2010

Hal itu, lanjut dia, semakin menaikkan ketergantungan Indonesia kepada BBM  untuk sektor transportasi. "Padahal, sekitar 60 persen BBM diserap sektor transportasi," ujarnya.

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailSenin Malam, Asteroid Mendekati Bumi
15/01/2015 | Dedi Junaedi

Mulai Senin (26/1) malam, sebuah Asteroid sebesar gunung akan mendekati Bumi. Asteroid itu akan berada ada lintasan paling dekat pada jarak sekitar 1,2 juta km dari Bumi. Diperkirakan akan tetap terid [ ... ]


Artikel Lainnya
Profil Peneliti
article thumbnailEniya Listiani Dewi Raih Gelar Profesor Riset
09/06/2016

  Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Dr. Eniya Listiani Dewi, B. Eng meraih gelar Profesor Riset bidang teknologi Proses Elektrokimia. Dalam prosesi pengukuhan  [ ... ]


Profil Peneliti Lainnya
LOMBA UNTUK JURNALIS

Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek