Homepage > ULASAN > Atasi Jurang Teknologi dan Bisnis dengan Inkubator
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

Data Pengunjung
Registered users : 5
Online : 978
Guest : 978
Members : 0

Atasi Jurang Teknologi dan Bisnis dengan Inkubator

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Jurang antara Teknologi dan Bisnis akan semakin dalam jika tidak segera dicarikan solusinya. Diperlukan mediator  yang bisa mencetak teknopreneur, wirausahawan muda berbasis teknologi.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Inkubator Teknologi salah satu yang terpanggil untuk menumbuhkan teknopreneur di Indonesia.  Deputi Kepala BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi, Tatang A Taufik mengatakan teknoprenuership adalah sumber kesejahteraan masa kini dan masa yang akan datang. “Ditangan mereka ilmu pengetahuan dan teknologi berubah menjadi produk-produk yang akan meningkatkan kualitas kehidupan dan memiliki nilai tambah tinggi,” katanya kepada wartawan, Kamis (16/6) di Jakarta.

Dalam penciptaan teknopreneur baru, Balai Inkubator Teknologi (BIT) melakukan inkubasi teknologi seperti  demand pull, yakni pengusaha-pengusaha baru datang BIT kemudian didampingi dalam proses inkubasi hingga pemilihan teknologinya. Atau pengusaha bisa melakukan technology push, yaitu teknologi-teknologi  yang dipunyai BPPT kemudian dipertemukan dengan mitra pengusaha kemudian dipasarkan.

Menurut Kepala Balai Inkubator Teknologi, Bambang S Pujantiyo, sudah saatnya lulusan perguruan tinggi saat ini tidak berpikir untuk mencari kerja namun menciptakan lapangan pekerjaan. “Indonesia ini butuh pengusaha inovatif untuk meningkatkan daya saing. Potensi untuk menjadi menjadi pengusaha berbasis teknologi masih terbuka lebar. Banyak produk-produk yang memerlukan sentuhan teknologi agar bisa bersaing di pasaran. Lihat saja tempe yang dijual di luar negeri. Mereka menjual tempe dengan kemasan yang menarik. Bayangkan dengan tempe yang dijual di dalam negeri hanya memakasi kertas bekas atau daun pisang,” katanya.

Pengembangan teknopreneur menjadi penting karena saat ini baru ada sekitar 0,24 persen wirausahawan di Indonesia. Idealnya Indonesia dengan jumlah penduduk dan jumlah lulusan terdidik bisa menghasilkan empat persen pengusaha muda berbasis teknologi.

Oleh karena itu dalam meningkatkan jumlah teknopreneur di Indonesia maka diperlukan adanya incubator-inkubator di daerah. Bersamaan dengan penerapan Sistem Inovasi Daerah di 13 wilayah kabupaten kota, BIT merencanakan membangun inkubator di daerah tersebut.

“Daerah yang punya komitmen membangun inkubator, Sumatera Selatan, Pekalongan, Semarang dan Gunungkidul,” ujar Bambang.***

 

Umum

article thumbnail 25 Tahun Hubungan Bilateral Indonesia-Armenia
Kamis, 21 September 2017 | Setiyo Bardono

  Technology-Indonesia.com - Perayaan Hari Kemerdekaan Armenia ke 26 yang jatuh pada 21 September bertepatan dengan peringatan ke 25 hubungan bilateral Indonesia dan...

Review

article thumbnail Memperbesar Peluang Energi Baru Terbarukan
Jumat, 19 Maret 2010

  “Sudah ditargetkan melalui Perpres No 5/2006 untuk mengurangi penggunaan minyak bumi. Namun,  hingga saat ini, belum ada action plan pemerintah kendati secara kebijakan atau regulasi...

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailMenyambut Harteknas ke-20
10/08/2015 | Dedi Junaedi


Hari ini, 20 tahun lalu, Indonesia mencatat sejarah. Untuk pertama kalinya, sebuah pesawat komuter fly by wire  berhasil dibuat dan diterbangkan. Prototipe A-1, N-20 dengan sandi Gatotkaca, terbang m [ ... ]


Artikel Lainnya
Profil Peneliti
article thumbnailRatno Nuryadi, Profesor Riset Bidang Elektronika
09/06/2016

Penelitian tentang nanosensor (sensor nano), salah satu produk nanoteknologi berbasis elektronik mengantar Dr. Ratno Nuryadi, M.Eng meraih gelar profesor riset bidang elektronika. Dalam prosesi peng [ ... ]


Profil Peneliti Lainnya
LOMBA UNTUK JURNALIS

Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek