Homepage > ULASAN > 20 Indikasi Geografis Bersertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

Data Pengunjung
Registered users : 5
Online : 574
Guest : 576
Members : 0

20 Indikasi Geografis Bersertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Saat ini sudah terdaftar sertifikat HAKI 20 komoditas di Indonesia berupa indikasi geografis. Pengakuan ini sangat penting karena bisa berpenggaruh dari sisi ekonomi.

Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Ahmad M Ramli, Selasa (10/12), di Jakarta, dilansir Kompas, mengatakan, Sebenarnya masih banyak lagi indikasi geografis yang perlu didaftarkan masyarakat. Sesuai urutan pendaftarannya, sebanyak 20 kekayaan intelektual kategori indikasi geografis itu meliputi kopi arabika Kintamani Bali, mebel ukir Jepara, lada putih Muntok, tembakau hitam Sumedang, tembakau mole Sumedang, susu kuda Sumbawa, madu Sumbawa, beras adan krayan Nunukan, dan kopi arabika Flores Bajawa.

Kemudian purwaceng Dieng, carica Dieng, vanili Kepulauan Alor, kopi arabika Kalosi Enrekang, ubi Cilembu Sumedang, salak pondoh Sleman Yogyakarta, minyak hitam Aceh, kopi arabika Java-Ijen-Raung. Sebanyak tiga indikasi geografis dari negara lain yang didaftarkan di Indonesia meliputi produk minuman champagne dan pisco, keduanya berasal dari Perancis dan Italia. Kemudian keju parmigiano reggiano dari Italia.

Indikasi geografis menjadi tanda asal suatu produk atau komoditas tertentu. Menurut Ramli, dengan adanya sertifikat indikasi geografis itu masyarakat yang mengembangkan komoditasnya memperoleh manfaat perlindungan dari pemerintah. “Seperti beras adan krayan yang diproduksi masyarakat Dayak di Nunukan, Kalimantan Utara. Jika ada pelanggaran, masyarakat Dayak bisa menuntut ganti kerugian,” kata Ramli.

Tuntutan ganti rugi tersebut, misalnya, ketika ada pemalsuan produk beras adan krayan tapi tidak ditanam dari Nunukan.

 

Umum

article thumbnail Sebelas Institusi Deklarasikan Konsorsium Riset Samudera
Selasa, 26 September 2017 | Setiyo Bardono

  Jakarta, Technology-Indonesia.com – Sebelas kementerian/lembaga dan universitas sepakat mendeklarasikan Konsorsium Riset Samudera, di Jakarta, Selasa...

Review

article thumbnail Dibalik Musibah Uji Coba Roket Kendali Lumajang
Rabu, 03 Februari 2010

  Minggu lalu, terbetik berita salah satu roket uji coba milik konsorsium dibawah Kementerian Riset dan Teknologi di wilayah Lumajang, Jawa Timur melenceng dari sasaran. Para wakil konsorsium yang...

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailMendorong Peningkatan Daya Saing Ekonomi Melalui Science & Technology Park (STP)
21/08/2015 | Dadan Nugraha SSi MT

Pemerintahan presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla telah mengagendakan salah satu program prioritas pembangunan berupa pembentukan Science & Technology Park (STP). Hal ini termuat dalam  [ ... ]


Artikel Lainnya
Profil Peneliti
article thumbnailTri Panji
20/06/2016

Pria kelahiran Sragen, 29 Mei 1961 ini menyelesaikan  pendidikan  di  Jurusan  Kimia,  Fakultas Matematika  dan  Ilmu  Pengetahuan  Alam,  Universitas  Gadjah Mada  1983. Tri Panji merup [ ... ]


Profil Peneliti Lainnya
LOMBA UNTUK JURNALIS

Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek