Homepage > ULASAN > 20 Indikasi Geografis Bersertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)
Resensi
article thumbnailIndeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia

  Judul Buku : Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia Penulis : Giyanto, Peter Mumby, Nurul Dhewani, Muhammad Abrar, dan Marindah Yulia Iswari Penerbit : Coremap-CTI, Pusat  [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

Data Pengunjung
Registered users : 5
Online : 1653
Guest : 1654
Members : 0

20 Indikasi Geografis Bersertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Saat ini sudah terdaftar sertifikat HAKI 20 komoditas di Indonesia berupa indikasi geografis. Pengakuan ini sangat penting karena bisa berpenggaruh dari sisi ekonomi.

Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Ahmad M Ramli, Selasa (10/12), di Jakarta, dilansir Kompas, mengatakan, Sebenarnya masih banyak lagi indikasi geografis yang perlu didaftarkan masyarakat. Sesuai urutan pendaftarannya, sebanyak 20 kekayaan intelektual kategori indikasi geografis itu meliputi kopi arabika Kintamani Bali, mebel ukir Jepara, lada putih Muntok, tembakau hitam Sumedang, tembakau mole Sumedang, susu kuda Sumbawa, madu Sumbawa, beras adan krayan Nunukan, dan kopi arabika Flores Bajawa.

Kemudian purwaceng Dieng, carica Dieng, vanili Kepulauan Alor, kopi arabika Kalosi Enrekang, ubi Cilembu Sumedang, salak pondoh Sleman Yogyakarta, minyak hitam Aceh, kopi arabika Java-Ijen-Raung. Sebanyak tiga indikasi geografis dari negara lain yang didaftarkan di Indonesia meliputi produk minuman champagne dan pisco, keduanya berasal dari Perancis dan Italia. Kemudian keju parmigiano reggiano dari Italia.

Indikasi geografis menjadi tanda asal suatu produk atau komoditas tertentu. Menurut Ramli, dengan adanya sertifikat indikasi geografis itu masyarakat yang mengembangkan komoditasnya memperoleh manfaat perlindungan dari pemerintah. “Seperti beras adan krayan yang diproduksi masyarakat Dayak di Nunukan, Kalimantan Utara. Jika ada pelanggaran, masyarakat Dayak bisa menuntut ganti kerugian,” kata Ramli.

Tuntutan ganti rugi tersebut, misalnya, ketika ada pemalsuan produk beras adan krayan tapi tidak ditanam dari Nunukan.

 

Umum

article thumbnail DRN Sampaikan Naskah Akademik untuk Undang-Undang Inovasi
Kamis, 23 November 2017 | Setiyo Bardono

Ketua Dewan Riset Nasional (DRN), Bambang Setiadi dalam Seminar Nasional bertema “Inovasi, Invensi, dan Komersialisasi Teknologi untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional” di Hotel...

Review

article thumbnail Memperbesar Peluang Energi Baru Terbarukan
Jumat, 19 Maret 2010

  “Sudah ditargetkan melalui Perpres No 5/2006 untuk mengurangi penggunaan minyak bumi. Namun,  hingga saat ini, belum ada action plan pemerintah kendati secara kebijakan atau regulasi...

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailPemanasan Global Meningkatkan Zona Mati Lautan
21/08/2015 | Dedi Junaedi

Bukti-bukti di Zaman Es menunjukkan peningkatan suhu bisa meningkatkan luas area air laut dengan sedikit oksigen. Rendahnya kadar oksigen membuat daya dukung terhadap kehidupan di laut menurun drastic [ ... ]


Artikel Lainnya
Profil Peneliti
article thumbnailTri Panji
20/06/2016

Pria kelahiran Sragen, 29 Mei 1961 ini menyelesaikan  pendidikan  di  Jurusan  Kimia,  Fakultas Matematika  dan  Ilmu  Pengetahuan  Alam,  Universitas  Gadjah Mada  1983. Tri Panji merup [ ... ]


Profil Peneliti Lainnya
LOMBA UNTUK JURNALIS

Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek