Homepage > ULASAN > Riset Baru Menggoyang Standar Model Partikel
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

Data Pengunjung
Registered users : 5
Online : 754
Guest : 756
Members : 0

Riset Baru Menggoyang Standar Model Partikel

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Teori Standar Model yang selama ini cukup mapan untuk menjelaskan komposisi partikel dalam suatu materi terancam goyah. Pasalnya, hasil riset terbaru menunjukkan aktivitas subatomik yang menyimpang dari kaidah  fisika partikel itu.  

Scientific American melaporkan, dua tim riset berbeda, Large Hadron Collider  (LHC) di Swiss dan  High Energy Accelerator Research Organization (HEARO) di Jepang, menengarai adanya peluruhan partikel subatomik Lepton dan Meson yang menyimpang dari ramalan teori Standar Model.quark (enam macam),

Standar Model adalah sebuah pendekatan mutakhir dalam Fisika Partikel. Ia merupakan hasil pengembangan lanjutan dari Teori Atom yang konvensional. Jika menurut teori konvensional, atom adalah partikel terkecil  penyusun sebuah materi; dan atom tesusun atas elemen dasar seperti proton, neutron dan elektron. Maka, menurut Standar Model, elemen dasar seperti proton, neutron dan elektron masih terbagi lagi atas partikel -partikel dasar subatomik yang jumlahnya belum dipastikan.

Partikel dasar itu awalnya ada enam (disebut quark), kemudian menjadi  17 (enam quark, enam lepton, dan lima boson). Belakangan, partikel dasar itu ada 61  macam, terdiri 18 quark, 18 antiquark, 6 leptom, 6 antilepton, 8 gluon, 4 boson, dan 1 hig bosson). Partikel-partikel subatomik itu bisa bergabung membantuk kombinasi sejumlah partikel yang lebih besar dari quark, tapi lebih kecil dari proton antara lain meson, baryon, graviton, muon, nukleon, neutrino, dan photon. Bagaimana mereka bisa bergabung membentuk karakteriktik, massa, warna, dan muatan tertentu, semuanya mengikuti aturan atau kaidah Standar Model.   

Nah, Tim  Swiss melakukan hasil riset menggunakan akselerator LHC. Hasilnya, mereka menemukan fenomena  menarik. Menurut kaidahnya, ketika  proton-proton bertabrakan sesamanya akan menghasilkan Lepton dalam jumlah terntentu. Ini ada rumus dasarnya. Ternyata, ketika dianalisis  dengan seksama, Tim menemukan fakta jumlah Leptn yang dihasilkan lebih banyak dari angka prediksinya.  Simpangan atau standar deviasi bisa sampai 3,9.  Mereka, sebagaimana dilaporkan  Physical Review Letters, juga  mengamati kelebihan potensi Taus sekitar 25 sampai 30 persen lebih besar daripada frekuensi yang diprediksi Standar Model.

Gejala mirip, menurut Physical Review , juga diamati Tim Riset di Jepang . Bedanya, mereka menggunakan akselator elektron dan positron. Di sini mereka menemukan adanya pembentukan dan peluruhan Meson B (tersusun atas quark dan antiquark). Jumlah yang terbentuk maupun yang meluruh tidak seimbang, lebih tinggi dari predksi Standar Model.  Temuan itu disampaikan Belle dari HEARO  dalam konferensi internasional Flavor Physics & CP Violation 2015 di Nagoya, Jepang, Mei lalu.

Dua hasil riset itu membuat heran ahli fisika teori California Institute of Technology ,  Mark Wise. “Ini mengejutkan. Bbenar-benar aneh," ucapnya. Dia menduga anomali itu bisa menjadi masukan berharga untuk penyempurnaan Teori Standar Model. Boleh jadi yang terbentuk partikel subatomik bari. Yang pasti, temuan itu menunjukkan bahwa selalu ada sisi gelap tak terduga dari sebuah tesis fisika teori.

Standar-Model yang merupakan buah dari teroi Supersimetri-tidak pernah membuat prediksi adanya  efek seperti  yang ditemukan Tm LHC dan HEARO. Hasil riset itu, menurut Hassan Jawahery, seorang fisikawan dari University of Maryland dan anggota dari kolaborasi riset LHC, ” jelas melanggar postulat supersimetri."

Dia menduga kelebihan itu berasal dari peluruhan partikel Boson Higgs yang mungkin membentuk varian  Higgs baru, yang memiliki masa  lebih berat dari partikel  B Meson. Pilihan lain adalah partikel hipotetis yang lebih eksotis disebut leptoquark, merupakan komposit dari quark dan lepton yang belum pernah terlihat di alam. Partikel in berinteraksi lebih kuat dengan tau daripada  muon dan elektron. "Leptoquarks bisa jatu kini benar-benar telah bisa terbentuk,"  tegasnya.

 

Umum

article thumbnail Ecodome, Wahana Baru di Kebun Raya Bogor
Rabu, 15 November 2017 | Setiyo Bardono

Ecodome, wahana baru di Kebun Raya Bogor (Foto Humas LIPI)   Technology-Indonesia.com - Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PKT...

Review

article thumbnail Memperbesar Peluang Energi Baru Terbarukan
Jumat, 19 Maret 2010

  “Sudah ditargetkan melalui Perpres No 5/2006 untuk mengurangi penggunaan minyak bumi. Namun,  hingga saat ini, belum ada action plan pemerintah kendati secara kebijakan atau regulasi...

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailMenguak Misteri Tragedi AirAsia
21/08/2015 | Dedi Junaedi

Apa yang terjadi dengan Air Asia QZ8501? Mengapa pesawat itu jatuh, apakah masalah teknis atau human error? Sampai hari ke-15 semuanya masih misteri. Black box yang diharapkan segera bisa menguak keja [ ... ]


Artikel Lainnya
Profil Peneliti
article thumbnailAdiseno PhD
20/08/2010

Adiseno PhD
Bandung, 14 November 1967 Bidang Keilmuan : MIPA Kimia Elektronika Adiseno memperoleh master di bidang teknik elektronika dari Delft University of Technology, Belanda pada 1994 yang se [ ... ]


Profil Peneliti Lainnya
LOMBA UNTUK JURNALIS

Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek