Homepage > Pertanian & Pangan > Pertanian > Akses Petani Terhadap Kredit Perbankan Masih Terbatas
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

Data Pengunjung
Registered users : 5
Online : 976
Guest : 976
Members : 0

Akses Petani Terhadap Kredit Perbankan Masih Terbatas

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 
alt
 
Jakarta, Technology-Indonesia.com – Akses petani terhadap sumber-sumber pembiayaan terutama dari lembaga keuangan formal masih terbatas. Hal ini menjadi salah satu masalah utama dalam mendorong peningkatan produktivitas pangan dalam negeri.
 
Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI, Yeni Saptia mengatakan saat ini hanya sekitar 15% petani yang sudah mengakses kredit bank. Mayoritas petani (52%) masih mengandalkan modal sendiri, kerabat, koperasi dan lembaga keuangan non bank lainnya. Sementara penyaluran kredit bank umum terhadap sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan baru sekitar 9 persen.
 
“Bank belum begitu tertarik untuk menyalurkan kredit di sektor pertanian karena resikonya tinggi dan perputaran usahanya lama,” terang Yeni dalam Media Briefing “Pembiayaan Pertanian di Persimpangan Jalan” di Media Center LIPI, Jakarta, Selasa (19/09/2017).
 
Faktor lain penyebab rendahnya produktivitas petani adalah terbatasnya penguasaan lahan yang menyebabkan tingginya tingkat kemiskinan di sektor pertanian. Hal ini tidak lepas dari seringnya terjadi fluktuasi harga dan tingginya ketergantungan pemenuhan pangan dari impor. Artinya kemandirian pangan tidak akan terwujud apabila para petani masih terjebak lingkaran kemiskinan.
 
Menurut Yeni, tidak semua rumah tangga petani memiliki kapabilitas permodalan. Semakin tinggi tingkat kesejahteraan petani akan semakin tinggi mengakses kredit bank. Sementara petani kurang sejahtera akan mengandalkan permodalan dari kredit non bank.
 
Yeni memaparkan kredit program untuk pertanian sebenarnya sudah ada sejak era kolonial (1895-1939) dengan berdirinya Poewokertosche Hulpen Spaar Bank der Inlandsche (1896), Bank Desa/Afdeelingsbank (1900), serta Bank Perkreditan Rakyat/ Algemene Volkscrediet Bank (1934). Pada Era Orde Lama (1945-1966) berdiri Bank Rakyat Indonesia (1946) serta mergernya AVB ke dalam BRI (1950).
 
Pada era Orde Baru dan era Reformasi, pemerintah meluncurkan berbagi program perkreditan seperti Bimas, Kredit Usaha Tani, Kredit Mini dan Midi, Kredit Usaha Rakyat dan lain-lain. “Namun banyak program yang terhenti karena berbagai masalah,” lanjut Yeni.
 
Salah satu masalahnya adalah kredit bank tidak sepenuhnya digunakan oleh petani untuk investasi dan modal kerja. “Banyak yang menggunakannya untuk keperluan lain seperti biaya anak sekolah, hajatan, dan lain-lain. Bank tidak bisa mendeteksi penyalahgunaan dana tersebut,” terang Yeni.
 
Permasalahan program kredit pertanian lainnya adalah penyaluran kredit yang tidak tepat sasaran maupun subsidi bunga yang pembayarannya cenderung lambat dari pemerintah. Selain itu prosedur yang birokratis menyebabkan petani enggan mengajukan kredit.
 
Solusi dari permasalah tersebut, papar Yeni, antara lain dengan memperbaiki proses bisnis, ketepatsasaran, keberlanjutan, dan dampak. Pada proses bisnis misalnya pemerintah harus membantu proses sertifikasi lahan sebagai jaminan mengajukan kredit. “Rata-rata surat kepemilikan masih girik, bahkan ada petani yang tidak punya surat,” kata Yeni.
 
Agar penyaluran kredit tepat sasaran, maka kriteria penerima kredit harus jelas. Salah satu solusinya melalui Kartu Tani berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta perbaikan penyaluran kredit saprotan (sarana produksi pertanian) dan sistem logistik.
 
Sementara untuk menjaga keberlanjutan program, menurut Yeni, perlu peningkatan profesionalisme SDM terutama analis kredit serta keterlibatan kelompok tani. “Pemerintah juga perlu memberi insentif bagi lembaga penyalur kredit,” lanjutnya.
 
Selain itu, petani juga harus diberi pemahaman pada para petani agar kredit dipakai untuk tujuan produktif bukan konsumtif. Program kredit untuk pertanian juga harus terintegrasi dengan program konsolidasi lahan dan program pemberdayaan/kewirausahaan.
 
Untuk mewujudkan keempat solusi tersebut, LIPI mendorong sinergitas Badan Layanan Umum Pembiayaan Pertanian yang dikelola Kementerian Pertanian dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan tetap memperhatikan Program Produk Unggulan Desa (Prudes).
 
“Progam ini harus didukung SDM professional dan infrastruktur yang memadai. Kinerja program kredit juga harus jelas agar tidak terjadi kredit macet,” pungkasnya.
 
 
Pacu Inovasi, Kementerian Ristek Bangun Strategi Kebersamaan

Pacu Inovasi, Kementerian Ristek Bangun Strategi Kebersamaan

Sebagai upaya mensinergikan antara sisi penyedia dan sisi pengguna Iptek, Kementerian Riset dan... READ_MORE
Kamis, 01 Juli 2010 11:02
 Liliana Yetta Pandi, Dra

Liliana Yetta Pandi, Dra

  ... READ_MORE
Selasa, 16 Maret 2010 21:50
Asep Karsidi Jabat Kepala Bakosurtanal

Asep Karsidi Jabat Kepala Bakosurtanal

Menristek Suharna Surapranata hari ini melantik Dr. Asep Karsidi sebagai Kepala Badan Koordinasi... READ_MORE
Selasa, 15 Juni 2010 16:12
Siswa SD se-Jabodetabek Kunjungi PP IPTEK

Siswa SD se-Jabodetabek Kunjungi PP IPTEK

Jakarta : Pusat  Peragaan Iptek (PP-IPTEK) menjadi bagian program acara ”Ayo Ke Museum Bersama Ibu... READ_MORE
Kamis, 17 Juni 2010 16:07
Deteksi Jantung Melalui Treadmill Test

Deteksi Jantung Melalui Treadmill Test

Jakarta : Treadmill test hingga kini kerap diabaikan dalam proses medical check up penyakit jantung ... READ_MORE
Selasa, 15 Juni 2010 14:07
Goyangan Gempa di Jakarta Utara Lebih Terasa

Goyangan Gempa di Jakarta Utara Lebih Terasa

DKI diguncang gempa. Warga DKI Jakarta sontak panik. Untungnya, hal itu baru dugaan dari seseorang... READ_MORE
Senin, 06 Juni 2011 10:24
Biogas dari Limbah Tahu

Biogas dari Limbah Tahu

Kementerian Riset dan Teknologi melalui Program Pengendalian Dampak Perubahan Iklim membuat proyek... READ_MORE
Jumat, 14 May 2010 12:01
BPPT Mengganti Empat Deputi

BPPT Mengganti Empat Deputi

Jakarta : Empat pejabat Kedeputian Badan Pengkajian Penerapan Teknologi  (BPPT) diganti. Pelantikan... READ_MORE
Rabu, 16 Juni 2010 19:19

Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan

Ketahanan pangan selalu dikaitkan dengan masalah kekurangan gizi. Masalah kurang gizi ini bukan... READ_MORE
Selasa, 09 April 2013 10:39

2oo Pelajar Dikenalkan Budaya Iptek

Kementerian Riset dan Teknologi merangkul generasi muda untuk terwujudnya pengembangan  budaya iptek... READ_MORE
Senin, 29 Oktober 2012 11:50
Batan melantik Deputi PTDBR Baru

Batan melantik Deputi PTDBR Baru

                        Jakarta : Dr Djarot Sulistio Wisnusubroto dilantik sebagai Dep... READ_MORE
Kamis, 17 Juni 2010 15:03

Ini Dia, Sepeda Motor Berbahan Bakar Air Plus

Ternyata bukan isapan jempol air bisa menjadi bahan bakar. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU... READ_MORE
Rabu, 06 Juni 2012 15:15

BIG Dukung Kebutuhan Informasi Geospasial Tematik Kemenkokesra

Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Indroyono Soesilo mengatakan Kementerian... READ_MORE
Selasa, 27 November 2012 16:52

Anggota DPR RI Azwir Dainy Tara: Perhatian Pemerintah Masih Belum Maksimal

Minimnya anggaran yang tersedia untuk kegiatan Riset dan Teknologi (Ristek), menjadi salah satu... READ_MORE
Kamis, 21 Juni 2012 11:39
KLIBS Usung Anastesi Lokal untuk Bantu Orang Miskin

KLIBS Usung Anastesi Lokal untuk Bantu Orang Miskin

Dunia kedokteran sudah lama mengenal  anastesi lokal atau bius lokal. Namun penerapan bius... READ_MORE
Selasa, 05 April 2011 15:37
Titik Terang Mencari 'Bumi Tandingan'

Titik Terang Mencari 'Bumi Tandingan'

Setelah lima tahun mencari, peneliti NASA akhirnya menemuka dua planet yang paling mirip Bumi.... READ_MORE
Rabu, 07 Januari 2015 18:03
Indonesia Peringkat ke-3 Jumlah Penderita Hepatitis

Indonesia Peringkat ke-3 Jumlah Penderita Hepatitis

Jakarta : Indonesia menempati peringkat ketiga dunia setelah China dan India untuk jumlah penderita... READ_MORE
Rabu, 28 Juli 2010 16:09

Teknologi Aquaponik di Lahan Sempit

Upaya menambah luasan lahan pertanian sebagai solusi peningkatan ketahanan pangan masih menemui... READ_MORE
Selasa, 11 Februari 2014 13:01
BIT BPPT Dorong Tumbuhnya Teknoprenur baru

BIT BPPT Dorong Tumbuhnya Teknoprenur baru

Jakarta- Kurangnya fasilitas pemerintah dalam mendorong iklim usaha, regulasi yang menunjang dan... READ_MORE
Senin, 18 April 2011 10:19
Masyarakat Indonesia Kekurangan Air Bersih

Masyarakat Indonesia Kekurangan Air Bersih

Dari 92 daerah terluar di Indonesia, 64 diantaranya merupakan daerah sulit air bersih. Selain it... READ_MORE
Kamis, 15 Maret 2012 16:16

Umum

article thumbnail Ecodome, Wahana Baru di Kebun Raya Bogor
Rabu, 15 November 2017 | Setiyo Bardono

Ecodome, wahana baru di Kebun Raya Bogor (Foto Humas LIPI)   Technology-Indonesia.com - Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PKT...

Review

article thumbnail Kembali Menanti Energi Alternatif
Jumat, 19 Maret 2010

Hal itu, lanjut dia, semakin menaikkan ketergantungan Indonesia kepada BBM  untuk sektor transportasi. "Padahal, sekitar 60 persen BBM diserap sektor transportasi," ujarnya.

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailTitik Terang Mencari 'Bumi Tandingan'
07/01/2015 | Dedi Junaedi

Setelah lima tahun mencari, peneliti NASA akhirnya menemuka dua planet yang paling mirip Bumi. Keduanya diberinama Kepler 438 b dan Kepler 442 b. Kepler merujuk pada nama pesawat antariksa AS yang mem [ ... ]


Artikel Lainnya
Profil Peneliti
article thumbnailTri Panji
20/06/2016

Pria kelahiran Sragen, 29 Mei 1961 ini menyelesaikan  pendidikan  di  Jurusan  Kimia,  Fakultas Matematika  dan  Ilmu  Pengetahuan  Alam,  Universitas  Gadjah Mada  1983. Tri Panji merup [ ... ]


Profil Peneliti Lainnya
LOMBA UNTUK JURNALIS

Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek