Homepage > Pertanian & Pangan > Pertanian > Menyingkap Kekayaan Hayati Pulau Sumba
Tanya Jawab
Hakteknas 2017, Pembangunan Maritim Berbasis Pengetahuan
25/04/2017

Jakarta - technology-indonesia.com - Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) tahun i [ ... ]


Lainnya
    Resensi
    Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia
    22/11/2017

      Judul Buku : Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia Penulis : Giyanto, Peter Mumby, Nurul Dhewani, Muhammad Abrar, dan Marindah Yulia Iswari Penerbit : Coremap-CTI, Pusat  [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Advertorial
    Lomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

      Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


    Artikel Lainnya

     

    Data Pengunjung
    Registered users : 5
    Online : 939
    Guest : 940
    Members : 0

    Menyingkap Kekayaan Hayati Pulau Sumba

    Penilaian Pengguna: / 0
    JelekBagus 

    alt

    JAKARTA - Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diyakini memiliki sumber daya alam yang tinggi serta unik karena berada di bagian selatan zona transisi Wallacea, di mana karakteristik biogeografi Indo-Malaya dan Australasia bertemu. Tingkat keberagaman dan endemisitas yang tinggi di Pulau Sumba bisa menjadi dasar pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan daya saing Indonesia.

    Selama Ekspedisi Widya Nusantara (E-WIN) 2016, tim peneliti bidang ilmu pengetahuan hayati (IPH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan kajian yang meliputi kajian fauna, flora, mikroba, serta pangan dan material maju di Pulau Sumba.

    Deputi Bidang IPH LIPI, Enny Sudarmonowati mengatakan dari hasil ekspedisi tersebut, tim penelitian bidang hayati mencatat beberapa jenis tanaman liar yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan yaitu jewawut, kelompok uwi atau ganyong, dan garut.

    “Tanaman ini dapat ditingkatkan statusnya menjadi tanaman budidaya dan diharapkan dapat meningkatkan gizi masyarakat setempat,” ujar Enny dalam Ekspose dan Talkshow E-WIN 2016: Menggali Potensi Bioresources untuk Mengurangi Kerentanan Masyarakat Perdesaan Sumba di Auditorium LIPI, Jakarta, pada Senin (19/12/2016).

    Dari potensi penelitian potensi pangan lokal, tim IPH LIPI mengidentifikasikan potensi serealia (selain padi dan jagung) berupa 3 jenis umbi-umbian, 7 jenis kacang-kacangan, serta 20 jenis buah dan sayur. Tantangan bagi LIPI dan pemerintah daerah adalah bagaimana membuat sumber pangan lokal ini bisa disenangi oleh masyarakat. “Kadang-kadang yang potensi ini rasanya tidak enak. Jadi bagaimana kita membuat rasanya itu enak seperti mereka memakan jagung,” lanjutnya.

    Sementara eksplorasi fauna di Pulau Sumba ditujukan untuk mendata potensi fauna, menemukan jenis baru, serta menguak potensi pemanfaatan dan aspek konservasi jenis-jenis endemik Pulau Sumba. Di Pulau Sumba tercatat 18 jenis serangga, 75 jenis burung, 56 jenis ikan, 12 jenis reptil, 5 jenis amfibi, 139 jenis serangga, 44 jenis keong, 25 jenis kepiting, 37 jenis udang, dan 2 jenis kelomang. Ditemukan tiga kandidat jenis baru yaitu 1 jenis tikus Rattus sp. dan 2 lalat buah Drospilla sp.

    Berdasarkan kajian molekuler (DNA), Kuda Sumba (Sandel) berasal dari dua garis keturunan yang berbeda. Dalam populasi Kuda Sumba sudah terjadi perkawinan silang dalam (inbreeding). Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya diversitas genetiknya. Informasi ini bisa digunakan untuk pertimbangan ilmiah konservasi genetik Kuda Sumba.

    Enny mengemukakan adanya fauna yang telah diintroduksikan ke Sumba dan berpotensi menjadi hama pertanian yaitu Bekicot (Achatina fulica) dan Keong Mas (Pomacea canaliculata). “Ini berbahaya kalau diperbanyak karena bisa menjadi invasif spesies yang mendominasi spesies lainnya, sehingga spesies lokal habis,” lanjutnya.

    Untuk kajian flora Sumba, terdapat empat tipe ekosistem yaitu ekosistem hutan hujan pegunungan bawah, ekosistem hutan hujan dataran rendah, ekosistem pada rumput dan ekosistem pantai berpasir.

    Puncak tertinggi di Sumba adalah Gunung Wanggameti (1225 m dpl) yang terletak di kawasan Taman Nasional (TN) Laiwangi-Wanggameti. Berdasarkan literatur, di puncak Wanggameti terdapat hutan elfin (kerdil) yang tumbuhannya berukuran kecil. Fenomena ini sangat unik di antara tipe-tipe ekosistem lainnya.

    Tim IPH LIPI yang melakukan penelitian hingga puncak ketinggian 1225 m dpl menyatakan berdasarkan fisionominya, hutan Wanggameti merupakan hutan hujan atau berasosiasi dengan hutan lumut karena atmosfer jenuh yang konstan. TN Laiwangi-Wanggameti mempunyai fungsi tata air yang sangat penting bagi Kabupaten Sumba Timur yang perlu dilesarikan.

    Tercatat 103 jenis pohon di kawasan TN Laiwangi-Wanggameti yang tergabung dalam 81 marga dan 42 suku. Setidaknya ada 17 jenis tumbuhan asal Sumba yang memiliki potensi sebagai tanaman hias dan penghasil kayu. Untuk potensi tumbuhan kayu, tim peneliti menemukan 10 jenis pohon yang tergolong kelas kuat (II).

    Tim IPH LIPI juga menemukan flora unik di TN Laiwangi-Wanggameti yaitu bambu Dinochloa kostermansiana (Lulu ura) yang tidak tumbuh tegak, melainkan merambat hingga ketinggian 30 meter pada pohon sekitarnya. Bambu endemik NTT ini hanya dijumpai di Flores dan Sumba.  

    Keunikan dan endemisitas Lulu ura bisa digunakan sebagai dasar penetapan bambu ini menjadi salah satu aset dan maskot flora TN Laiwangi-Wanggameti.  Masyarakat lokal memanfaatkan Lulu ura untuk membuat anyaman anyaman tapihan beras dan rangka atap bangunan. 

    ---------------------

    Baca juga:
     

    Umum

    Tingkatkan Peran Guru Besar dalam Pengembangan Peradaban
    Jumat, 23 Februari 2018 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti Mohamad Nasir dalam Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (FGB-ITB), di Gedung Balai Pertemuan Ilmiah ITB, Kamis (22/2/2018).Ageng Prasetyo/BKKP...

    iklantechno
    Kolom
    Capaian Kinerja 3 Tahun Kemenristekdikti
    23/10/2017 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti saat menyampaikan Capaian Kinerja Selama 3 tahun Kemenristekdikti di Gedung Binagraha, Jakarta, Senin (23/10/2017). Foto Timeh Harahap/Kemeristekdikti   Technology-Indo [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Profil Peneliti
    Basuki Hadimuljono: Infrastruktur Handal Kunci Utama Daya Saing
    05/08/2017

      Jakarta, Technology-Indonesia.com - Infrastruktur yang handal merupakan kunci utama dalam daya saing Indonesia. Penempatan infrastruktur dalam posisi sentral kebijakan pembangunan nasio [ ... ]


    Profil Peneliti Lainnya
      LOMBA UNTUK JURNALIS

      Info Produk
      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      ...
      Senin, 03 Juni 2013 14:45

      Inaco Siap Hadapi Pasar Global ASEAN

      P...
      Minggu, 05 April 2015 14:09

      Wellcomm Hadirkan Pelapis Ponsel Ekslusif

       ...
      Sabtu, 12 September 2015 23:41
      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      ...
      Jumat, 04 Desember 2015 16:29
      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      ...
      Kamis, 10 Desember 2015 12:12
      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      ...
      Senin, 25 Januari 2016 23:07
      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      ...
      Senin, 01 Februari 2016 11:21
      Angket
      Artikel Apa Yang Anda Sukai?
       
      iklanmapiptek