Homepage > Pertanian & Pangan > Perikanan > LIPI Rilis Data Terbaru Kondisi Terumbu Karang Indonesia
Tanya Jawab
Hakteknas 2017, Pembangunan Maritim Berbasis Pengetahuan
25/04/2017

Jakarta - technology-indonesia.com - Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) tahun i [ ... ]


Lainnya
    Resensi
    Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia
    22/11/2017

      Judul Buku : Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia Penulis : Giyanto, Peter Mumby, Nurul Dhewani, Muhammad Abrar, dan Marindah Yulia Iswari Penerbit : Coremap-CTI, Pusat  [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Advertorial
    Lomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

      Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


    Artikel Lainnya

     

    Data Pengunjung
    Registered users : 5
    Online : 2005
    Guest : 2005
    Members : 0

    LIPI Rilis Data Terbaru Kondisi Terumbu Karang Indonesia

    Penilaian Pengguna: / 1
    JelekBagus 
    alt
     
    Jakarta, technology-indonesia.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi merilis data terbaru status kondisi terumbu karang Indonesia pada 2017.  Pusat Oseanografi LIPI mengungkapkan sekitar 6,39% terumbu karang dalam kondisi sangat baik, 23,40% kondisinya baik, 35,06% kondisinya cukup dan 35,15% dalam kondisi jelek. 
     
    Data tersebut merupakan hasil verifikasi dan analisis data dari 108 lokasi dan 1.064 stasiun di seluruh perairan Indonesia. Pengukuran kondisi terumbu karang didasarkan pada persentase tutupan karang hidup yaitu kategori sangat baik dengan tutupan 76-100%, baik (tutupan 51-75%), cukup (tutupan 26-50%) dan jelek (tutupan 0-25%).
     
    Pengumpulan data kondisi terumbu karang Indonesia merupakan bagian dari tanggung jawab Pusat Penelitian Oseanografi LIPI yang diberi amanah sebagai Walidata Karang Indonesia dalam Program Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). 
     
    "Data status terumbu karang pada tahun ini diharapkan dapat digunakan semua pihak dalam penyusunan kebijakan, upaya rehabilitasi, pengelolaan dan konservasi terumbu karang nasional,  serta dapat memberikan prediksi kondisinya di masa yang akan datang,” ungkap Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah dalam Penyampaian Status Kondisi Terumbu Karang dan Padang Lamun di Indonesia 2017, di Jakarta, Rabu (7/6/2017).
     
    Dirhamsyah menyampaikan data tersebut merupakan kondisi terumbu karang Indonesia hingga akhir 2016. Data dikumpulkan melalui penelitian intensif dalam waktu yang cukup lama. “Idealnya data ini disampaikan pada akhir tahun 2016 atau awal tahun 2017,” lanjutnya.
     
    Secara rata-rata, berdasarkan hasil monitoring jangka panjang sejak 1993, terjadi kecenderungan peningkatan kondisi terumbu karang Indonesia ke arah yang lebih baik. Walaupun di pengujung 2016 terjadi sedikit penurunan. Hal ini disebabkan pada 2015 dan 2016 hampir di seluruh perairan Indonesia terjadi pemutihan karang yang diikuti dengan infeksi penyakit dan serangan hama.
     
    “Pada kondisi terumbu karang “sangat baik” walaupun cenderung konstan, namun pada 2016 terjadi kenaikan sebesar 1,39%, sebagai indikasi peningkatan luasan dan efektifitas kawasan konservasi perairan serta upaya rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang di Indonesia,” katanya. 
     
    Peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Suharsono memaparkan sebaran terumbu karang Indonesia ditemukan mulai dari perairan Sabang sampai Merauke dengan konsentrasi sebaran tertinggi berada di bagian tengah dan timur perairan Indonesia meliputi perairan Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, Maluku dan sekaligus menjadi pusat segitiga keanekaragaman karang dunia (coral triangle). 
     
    Hasil pengukuran terkini melalui pemetaan citra satelit, luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km2 atau sekitar 10% dari total terumbu karang dunia (luas 284.300 km2). Terumbu karang Indonesia juga merupakan penyumbang terbesar sekitar 34% dari luas terumbu karang di wilayah segitiga karang dunia (luas 73.000 km2). 
     
    “Menjadi pusat segitiga karang dunia, Indonesia memiliki kekayaan jenis karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia,” paparnya.
     
    Suharsono mencontohkan, jenis karang Acropora di Indonesia mencapai 94 jenis dari total 124 jenis atau sekitar 70% karang Acropora ditemukan di Indonesia. Sedangkan di perairan Karibia, hanya ditemukan tiga jenis karang Acropora. Begitu juga jenis karang Famili Fungiidae, ditemukan 41 jenis dari total 43 jenis yang ada di dunia atau sekitar 90% tersebar di perairan Indonesia. 
     
    Jenis-jenis karang endemik yang ditemukan di perairan Indonesia antara lain Acropora suharsonoi, Isopora togeanensis, Acropora desalwi, Indophyllia macasserensis dan Euphyllia baliensis. Jenis karang dengan sebaran terbatas dan merupakan “share stock” dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik juga ditemukan di perairan Indonesia antara lain Acropora kasuarini, Acropora rudis dan Acropora turtuosa.
     
    Menurut Suharsono penurunan status kondisi terumbu tidak hanya terjadi di Indonesia. Terumbu karang di negara lain seperti di Australia, Jepang, dan Floridia (Caribbean) statusnya juga mengalami tren penurunan. “Akar masalahnya adalah rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan nilai tinggi terumbu karang, kemiskinan, keserakahan, serta perubahan iklim,” paparnya.
     
    Suharsono mengungkapkan penyebab utama kerusakan terumbu karang antara lain pemakaian alat tangkap ikan yang merusak seperti penggunaan bom, peningkatan pencemaran, dan peningkatan pengembangan wilayah pesisir. Pemanasan global juga memicu terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) serta peningkatan jumlah penyakit dan hama. 
     
    Kejadian pemutihan karang ini disebabkan oleh kenaikan suhu air laut akibat fenomena anomali cuaca El-Nino. Para ahli memperkirakan pemutihan karang akan sering terjadi di masa yang akan datang akibat kombinasi dengan perubahan iklim dan pemanasan global. 
     
    “Suhu air laut Indonesia rata-rata 260 Celcius. Kenaikan suhu 2-3 derajat cukup membuat terumbu karang stress. Suhu air yang turun juga bisa menyebabkan coral bleaching,” terangnya.
     
    Menurut Suharsono, upaya mempercepat pemulihan terumbu karang bisa dilakukan antara lain melalui transplantasi. Selain itu perlu mengelola aktivitas manusia untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya keberadaan terumbu karang.
     
     
     

    Umum

    Inilah Rekomendasi Hasil Rakernas Kemenristekdikti 2018
    Kamis, 18 Januari 2018 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti saat membuka Rakernas di Medan. Foto Fatimah Harahap/Kemenristekdikti   Technology-Indonesia.com – Rapat Kerja Nasional (Rakernas)...

    iklantechno
    Kolom
    Capaian Kinerja 3 Tahun Kemenristekdikti
    23/10/2017 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti saat menyampaikan Capaian Kinerja Selama 3 tahun Kemenristekdikti di Gedung Binagraha, Jakarta, Senin (23/10/2017). Foto Timeh Harahap/Kemeristekdikti   Technology-Indo [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Profil Peneliti
    Basuki Hadimuljono: Infrastruktur Handal Kunci Utama Daya Saing
    05/08/2017

      Jakarta, Technology-Indonesia.com - Infrastruktur yang handal merupakan kunci utama dalam daya saing Indonesia. Penempatan infrastruktur dalam posisi sentral kebijakan pembangunan nasio [ ... ]


    Profil Peneliti Lainnya
      LOMBA UNTUK JURNALIS

      Info Produk
      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      ...
      Senin, 03 Juni 2013 14:45

      Inaco Siap Hadapi Pasar Global ASEAN

      P...
      Minggu, 05 April 2015 14:09

      Wellcomm Hadirkan Pelapis Ponsel Ekslusif

       ...
      Sabtu, 12 September 2015 23:41
      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      ...
      Jumat, 04 Desember 2015 16:29
      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      ...
      Kamis, 10 Desember 2015 12:12
      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      ...
      Senin, 25 Januari 2016 23:07
      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      ...
      Senin, 01 Februari 2016 11:21
      Angket
      Artikel Apa Yang Anda Sukai?
       
      iklanmapiptek