Homepage > Kesehatan > Penyakit Menular > Atasi DBD dengan Nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia
Tanya Jawab
Hakteknas 2017, Pembangunan Maritim Berbasis Pengetahuan
25/04/2017

Jakarta - technology-indonesia.com - Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) tahun i [ ... ]


Lainnya
    Resensi
    Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia
    22/11/2017

      Judul Buku : Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia Penulis : Giyanto, Peter Mumby, Nurul Dhewani, Muhammad Abrar, dan Marindah Yulia Iswari Penerbit : Coremap-CTI, Pusat  [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Advertorial
    Lomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

      Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


    Artikel Lainnya

     

    Data Pengunjung
    Registered users : 5
    Online : 1622
    Guest : 1623
    Members : 0

    Atasi DBD dengan Nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia

    Penilaian Pengguna: / 0
    JelekBagus 


    JAKARTA - Eliminate Dengue Project - Yogyakarta (EDP-Yogyakarta) tengah mengembangkan penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) dengan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Nyamuk tersebut mampu menghambat penularan virus dengue di dalam tubuh nyamuk sehingga tidak menular ke tubuh manusia.

    Wolbachia merupakan bakteri alami yang terdapat di 60% jenis serangga yang ada di bumi, termasuk kupu-kupu, lebah, lalat, dan buah. Namun, Wolbachia tidak terdapat dalam nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah. Proyek yang dimotori Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) ini dimulai sejak tahun 2011 tepatnya di Kabupaten Sleman dan Bantul, Provinsi Yogyakarta.

    Kajian analisis risiko oleh tim independen yang dibentuk Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menunjukkan bahwa hasil penelitian pengendalian DBD dengan teknologi Wolbachia ini aman atau memiliki risiko yang dapat diabaikan (negligible risk). Negligible Risk adalah resiko terendah dari lima tahap resiko yaitu Negligible Risk, Low Risk, Moderate Risk, High Risk, dan Very High Risk.

    Ketua Tim Kajian Analisis Risiko, Damayanti Buchori mengatakan pengendalian DBD dengan Wolbachia aman dilihat dari empat aspek yaitu ekonomi dan sosio-kultural, pengendalian vektor, ekologi, dan kesehatan masyarakat. “Resiko tetap ada tapi sangat kecil dan efek negatif juga kecil dari pelepasan nyamuk dengue ber-Wolbachia,” ujar Damayanti dalam Konferensi Pers di Gedung II BPPT, Jakarta, pada Jumat (2/9/2016).

    Tim pakar independen ini dimotori oleh lima ahli dari berbagai bidang dari universitas dan lembaga riset di Indonesia. Selain tim inti, terdapat 20 anggota tim pengkaji risiko yang tergabung dalam kajian ini. Pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dilakukan di Yogyakarta pada skala kecil di sebagian wilayah Sleman dan Bantul pada 2014, menjadi bahan penting bagi pelaksanaan analisis risiko.

    Pada 2016, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan perluasan penelitian terkait penggunaan Wolbachia untuk menangani penyakit disebabkan nyamuk Aedes, diantaranya penanganan DBD. Selain Indonesia, negara lain yang tergabung dalam EDP Global yang melakukan kajian serupa adalah Vietnam dan Australia.

    Menurut Damayanti, hasil kajian tersebut menjadi tonggak untuk melakukan kajian lebih lanjut di Indonesia, dalam latar lingkungan yang berbeda. Kemenristekdikti berharap hasil kajian analisis risiko ini bisa digunakan tim peneliti untuk terus mengembangkan penelitian, mengingat penyakit DBD masih menjadi ancaman serius di Indonesia.

    Peneliti utama EDP-Yogyakarta Adi Utarini mengatakan penelitian ini diawali tahun 2011 melalui pendekatan berjangka panjang dan dilakukan secara bertahap. “Pada fase pertama tahun 2011-2013, kami mempelajari betul aspek keamanan dan kelayakan penelitian ini. Dalam aspek kelayakan, apakah kami mampu menghasilkan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia,” lanjutnya

    Pada fase kedua, lanjutnya, mulai diujicoba pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di empat wilayah terbatas, yaitu dua dusun di Kabupaten Sleman, dan dua dusun di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pada fase dua, Tim EDP-Yogyakarta ingin menjawab pertanyaan apakah bisa nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia kawin dengan nyamuk Aedes aegypti yang ada di alam dan menghasilkan keturunan nyamuk ber-Wolbachia.

    “Di Sleman dan Bantul, kita sudah mengamati selama 2 tahun lebih. Hasilnya saat ini, sebagian besar nyamuk di wilayah tersebut sudah mengandung Wolbachia. Di Australia, hal ini dipantau selama lima tahun setelah pelepasan dan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia tetap ada di habitat alami. Jadi satu kali intervensi, hasilnya akan sustainable,” ungkap Adi Utarini.

    Fase ketiga akan dimulai di kota Yogyakarta, dengan menyebarkan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia ke wilayah yang lebih luas, mencakup 40% kota Yogyakarta. “Kami akan membandingkan apakah betul di wilayah yang ada Aedes aegypti ber-Wolbachia akan lebih sedikit atau lebih rendah kasus DBD-nya,” kata Adi Utarini.

    Menurut Adi Utarini, penelitian ini masih akan berjalan hingga 2019 untuk mengamati jika Wolbachia tetap tinggi di habitat alami, apakah akan terjadi penurunan kasus DBD dan seberapa banyak penurunannya. "Penelitian ini kami lakukan hingga 2019 untuk membuktikan bagaimana efektifitas teknologi Wolbachia ini," pungkasnya.

     

    Umum

    Cegah Korupsi Sistemik, Tiga Lembaga Matangkan Penerapan SNI ISO 37001
    Jumat, 23 Februari 2018 | Setiyo Bardono

    Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (tengah) bersama Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi dan Kepala BSN Bambang Prasetya dalam pertemuan di Gedung Bina Graha, Jakarta, pada Jumat (23/2/2018)....

    iklantechno
    Kolom
    Capaian Kinerja 3 Tahun Kemenristekdikti
    23/10/2017 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti saat menyampaikan Capaian Kinerja Selama 3 tahun Kemenristekdikti di Gedung Binagraha, Jakarta, Senin (23/10/2017). Foto Timeh Harahap/Kemeristekdikti   Technology-Indo [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Profil Peneliti
    Basuki Hadimuljono: Infrastruktur Handal Kunci Utama Daya Saing
    05/08/2017

      Jakarta, Technology-Indonesia.com - Infrastruktur yang handal merupakan kunci utama dalam daya saing Indonesia. Penempatan infrastruktur dalam posisi sentral kebijakan pembangunan nasio [ ... ]


    Profil Peneliti Lainnya
      LOMBA UNTUK JURNALIS

      Info Produk
      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      ...
      Senin, 03 Juni 2013 14:45

      Inaco Siap Hadapi Pasar Global ASEAN

      P...
      Minggu, 05 April 2015 14:09

      Wellcomm Hadirkan Pelapis Ponsel Ekslusif

       ...
      Sabtu, 12 September 2015 23:41
      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      ...
      Jumat, 04 Desember 2015 16:29
      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      ...
      Kamis, 10 Desember 2015 12:12
      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      ...
      Senin, 25 Januari 2016 23:07
      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      ...
      Senin, 01 Februari 2016 11:21
      Angket
      Artikel Apa Yang Anda Sukai?
       
      iklanmapiptek