Homepage > Kesehatan > Penyakit Degeneratif > IgG NPC Strip, Mendeteksi Dini Kanker Nasofaring
Tanya Jawab
Hakteknas 2017, Pembangunan Maritim Berbasis Pengetahuan
25/04/2017

Jakarta - technology-indonesia.com - Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) tahun i [ ... ]


Lainnya
    Resensi
    Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia
    22/11/2017

      Judul Buku : Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia Penulis : Giyanto, Peter Mumby, Nurul Dhewani, Muhammad Abrar, dan Marindah Yulia Iswari Penerbit : Coremap-CTI, Pusat  [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Advertorial
    Lomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

      Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


    Artikel Lainnya

     

    Data Pengunjung
    Registered users : 5
    Online : 1047
    Guest : 1047
    Members : 0

    IgG NPC Strip, Mendeteksi Dini Kanker Nasofaring

    Penilaian Pengguna: / 1
    JelekBagus 

    Kanker nasofaring atau Nasopharynx Cancer (NPC) merupakan jenis kanker dengan angka kejadian rendah, kurang dari 1 per 100 ribu penduduk/tahun di dunia. Namun di Indonesia, angka kejadiannya mencapai 6,2 per 100 ribu penduduk pertahun.

    Data di RSUP Dr. Sardjito mencatat terdapat 269 kasus NPC tahun 2001-2004. Saat ini dilaporkan terdapat 100 NPC kasus baru setiap tahunnya. Penyakit yang menyerang daerah leher kepala ini menempati urutan keempat di antara kanker lain.

    Sayangnya deteksi dini terhadap gejala kanker nasofaring belum banyak dikembangkan. Sebagian besar penderita datang dalam kondisi stadium lanjut sehingga sulit ditangani. Tingkat keberhasilan penanganan penyakit menjadi rendah, yaitu kurang dari 30 persen.

    Menurut Dewi Kartika Paramita, SSi. MSi. PhD. dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) penanganan NPC stadium lanjut harus dengan terapi kombinasi yakni radioterapi dan kemoterapi. Terapi kombinasi ini berefek samping tinggi dan biaya mahal.

    "NPC stadium dini dapat ditangani dengan radioterapi saja, dengan tingkat keberhasilan lebih dari 80 persen. Efek sampingnya lebih rendah dan biaya relatif murah. Untuk itu, dibutuhkan metode untuk mendeteksi NPC pada stadium dini,” ujarnya.

    Pengembangan alat deteksi dengan metode ELISA di Fakultas Kedokteran UGM dimulai oleh Jajah Fachiroh. Pengujian dengan metode ini membutuhkan alat khusus untuk membaca hasil dengan waktu pengerjaan 4-5 jam dan juga biaya relatif mahal. Satu kali tes atau uji setidaknya menelan biaya hingga Rp 250 ribu.

    Karena itu, Dewi mengembangkan IgG NPC Strip, alat deteksi dini NPC yang mudah, cepat, akurat, dan berbiaya murah. Satu kit IgG NPC Strip dibanderol dengan harga maksimal Rp 50 ribu. Alat akan dilempar ke pasaran dalam waktu dekat setelah proses registrasi ke Kementerian Kesehatan RI.

    Deteksi NPC dilakukan dengan menggunakan protein dari virus Epstein-Barr (EBV). Salah satunya adalah protein early antigen (EA). NPC memiliki keterkaitan dengan EBV, karenanya beberapa protein EBV dapat digunakan sebagai marker untuk mendeteksi NPC. Pembuatan alat deteksi NPC bekerjasama dengan Laboratorium Hepatika NTB.
    “IgG NPC Strip ini memakai protein EBV sebagai antigen untuk mendeteksi antibodi IgG terhadap protein EA pada pasien kanker nasofaring,” jelasnya.

    Penggunaan alat deteksi NPC cukup mudah layaknya alat tes kehamilan. Satu tetes darah pasien diencerkan dengan larutan buffer yang telah tersedia pada kit. Selanjutnya NPC strip dicelupkan pada larutan. IgG NPC Strip memiliki sensitivitas sebesar 87 persen dan spesifitas 100 persen.

    “Dalam waktu 3-5 menit hasilnya sudah bisa dilihat. Dinyatakan positif jika terbentuk 2 garis berwarna merah muda dan negatif jika hanya terbentuk 1 garis warna merah muda,” urainya.

    Apabila tes pada pasien dengan gejala NPC namun menunjukkan hasil negatif, tindakan pengobatan akan dilakukan berkelanjutan dengan melakukan tes kembali 6 bulan kemudian. Cara ini diharapkan dapat menekan angka kejadian NPC dan penderita dapat tertangani dengan baik.

    NPC memiliki gejala yang tidak khas seperti pilek kronis, sakit kepala berkepanjangan, dan telinga berdenging. Pada stadium lanjut akan muncul benjolan di leher bagian samping atau mata menjadi juling.

    “Benjolan kanker nasofaring berada di belakang hidung dan di dalam tenggorokan sehingga tidak tampak dari luar. Dengan gejala yang tidak spesifik itu, sekitar 80 persen pasien diketahui positif NPC setelah kanker menyerang secara luas,” kata Dewi yang aktif mengkaji biologi molekular, NPC, dan imunologi ini.

    Penyebab NPC tidak hanya dari faktor genetik. Faktor lingkungan bisa memicu munculnya NPC seperti tingginya paparan bahan-bahan bersifat karsinogenik, polusi, maupun asap rokok. Keadaan tersebut juga memicu adanya infeksi di daerah nasofaring oleh virus EBV.

    “Virus EBV ini menginfeksi hampir 100 persen populasi penduduk dunia, namun pada sebagian besar orang yang terinfeksi tidak menimbulkan gejala yang berarti,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 3 Maret 1971 ini. Sumber www.ugm.ac.id

     

    Umum

    Revolusi Industri 4.0 Harus Diantisipasi Secara Serius
    Sabtu, 17 Februari 2018 | Setiyo Bardono

    Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Konvensi Kampus XIV dan Temu Tahunan XX Forum Rektor Indonesia (FRI) Tahun 2018. Foto Biro Pers...

    iklantechno
    Kolom
    Capaian Kinerja 3 Tahun Kemenristekdikti
    23/10/2017 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti saat menyampaikan Capaian Kinerja Selama 3 tahun Kemenristekdikti di Gedung Binagraha, Jakarta, Senin (23/10/2017). Foto Timeh Harahap/Kemeristekdikti   Technology-Indo [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Profil Peneliti
    Basuki Hadimuljono: Infrastruktur Handal Kunci Utama Daya Saing
    05/08/2017

      Jakarta, Technology-Indonesia.com - Infrastruktur yang handal merupakan kunci utama dalam daya saing Indonesia. Penempatan infrastruktur dalam posisi sentral kebijakan pembangunan nasio [ ... ]


    Profil Peneliti Lainnya
      LOMBA UNTUK JURNALIS

      Info Produk
      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      ...
      Senin, 03 Juni 2013 14:45

      Inaco Siap Hadapi Pasar Global ASEAN

      P...
      Minggu, 05 April 2015 14:09

      Wellcomm Hadirkan Pelapis Ponsel Ekslusif

       ...
      Sabtu, 12 September 2015 23:41
      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      ...
      Jumat, 04 Desember 2015 16:29
      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      ...
      Kamis, 10 Desember 2015 12:12
      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      ...
      Senin, 25 Januari 2016 23:07
      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      ...
      Senin, 01 Februari 2016 11:21
      Angket
      Artikel Apa Yang Anda Sukai?
       
      iklanmapiptek