Homepage > Kesehatan > Obat Farmasi & Tradisional > BPPT Dorong Pengembangan Industri Antibiotik
Tanya Jawab
Hakteknas 2017, Pembangunan Maritim Berbasis Pengetahuan
25/04/2017

Jakarta - technology-indonesia.com - Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) tahun i [ ... ]


Lainnya
    Resensi
    Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia
    22/11/2017

      Judul Buku : Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia Penulis : Giyanto, Peter Mumby, Nurul Dhewani, Muhammad Abrar, dan Marindah Yulia Iswari Penerbit : Coremap-CTI, Pusat  [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Advertorial
    Lomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

      Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


    Artikel Lainnya

     

    Data Pengunjung
    Registered users : 5
    Online : 2022
    Guest : 2022
    Members : 0

    BPPT Dorong Pengembangan Industri Antibiotik

    Penilaian Pengguna: / 0
    JelekBagus 

    Saat ini, sekitar 95 persen bahan baku obat untuk kebutuhan industri farmasi Indonesia masih diimpor dari China (60%) dan India (30%). Padahal secara teknologi Indonesia sudah siap memproduksi bahan baku obat sendiri dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang melimpah.

    Untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjalin kerjasama dengan PT. Kimia Farma Tbk dan Sungwun Pharmacopia. Kerjasama ini diharapkan mampu mengakselerasi kemandirian bahan baku obat di Indonesia.

    Kepala BPPT, Unggul Priyanto mengatakan kerjasama tripartit ini  terkait pengembangan bahan baku obat antibiotik khususnya sefalosporin. Kerjasama ini sangat penting karena industri farmasi di Indonesia lebih dari 90% bahan bakunya masih impor.

    “BPPT siap mendorong pengembangan industri antibiotik di Indonesia. Semoga kerjasama ini mendatangkan keuntungan bagi kita,” kata Unggul saat penandatangan MoU antara BPPT, PT Kimia Farma dan Sungwun Pharmacopia di Gedung II BPPT, Jakarta, pada Senin (6/6/2016)

    Dalam kesempatan tersebut, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri Dan Bioteknologi (TAB) BPPT, Eniya Listiani Dewi mengatakan konsep pemerintahan Joko Widodo yang memutuskan bahan baku obat merupakan target nasional merupakan kebijakan yang sangat penting. Saat ini, lanjut Eniya, Pemerintah Indonesia telah memberikan dukungan dan dorongan yang maksimal untuk menjadikan industri farmasi nasional sebagai andalan.

    Menurut Eniya, pasar produk farmasi Indonesia pada tahun 2015 sebesar Rp. 60 Triliun dan diproyeksikan meningkat menjadi Rp. 102,05 Triliun pada 2020. Peluang yang besar akan kebutuhan produk farmasi tersebut tentunya harus diiringi dengan ketersediaan bahan baku obat yang berkualitas dan mandiri.

    Untuk menangkap peluang pasar yang besar tersebut, harus terus dilakukan inovasi yang memanfaatkan semua sumber daya berbasis kekayaan alam Indonesia yang terintegrasi dari hulu hingga hilir,” ungkap Eniya.

    Sebelumnya, BPPT sudah mengeluarkan Outlook Teknologi Kesehatan pada April 2016. “BPPT memprediksi bahan baku obat ini menjadi salah satu poin penting dimana raw material-nya harus diproduksi di Indonesia. Kita prediksikan hingga 2035 kebutuhan itu akan sangat tinggi,” terang Eniya.

    Menurut Eniya, kajian untuk memproduksi bahan baku obat khususnya antibiotika golongan beta laktam sesungguhnya telah dimulai oleh BPPT sejak tahun 1990an. Tetapi karena kurangnya dukungan dan tidak ada yang mengawal jadi seolah mati suri.

    Untuk mengatasi kendala tersebut, BPPT melalui unit kerjanya di Balai Bioteknologi terus melakukan inovasi untuk menghasilkan teknologi produksi bahan baku obat yang efisien. Selain itu, BPPT juga berupaya menjalin kemitraan dengan semua stakeholder industri kesehatan.

    Sekarang semua sudah melek kesehatan. Kita sangat tergantung pada bahan baku obat sehingga yang sudah ada di BPPT kita angkat lagi dan kita deliver ke Industri. Kerjasama ini merupakan salah satu upaya untuk mempercepat kemampuan BPPT untuk berinovasi,” kata Eniya.

    Sementara itu, Penasehat Ahli Deputi TAB, Wahono Sumaryono mengatakan sefalosporin dipilih karena kebutuhan pasarnya sangat tinggi, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Saat ini produsen utamanya adalah China dan India.

    “Kami mengandeng Sungwun karena mereka punya teknologi yang dikembangkan sendiri. BPPT juga punya. Keduanya akan saling tukar informasi mencari mana yang terbaik yang secara biaya sangat kompetitif. Nanti, teknologi dari Sungwun dan BPPT kita evaluasi mana yang terbaik kemudian digunakan untuk produksi bersama,” kata Wahono.

    Wahono berharap, ke depan jika pabriknya sudah beroperasi akan memberikan kontribusi signifikan bagi pengurangan ketergantungan bahan baku dari impor. Kalau kita bisa memproduksi sendiri dari bahan baku lokal tentu akan memberi nilai tambah yang berarti bagi kebutuhan kebutuhan farmasi di Indonesia,” kata Wahono.

    Direktur Utama Kimia Farma, Rusdi Rosman mengatakan penentuan harga obat di masyarakat rata-rata 75-80% dari bahan baku. Jadi 20-25% untuk biaya marketing dan ongkos produksi. Bayangkan jika 75% ini kita gantungkan pada impor, lanjutnya.

    Menurut Rusdi, untuk persiapan bahan baku sefalosporin sudah tersedia lahan 12 hektar di Lippo Cikarang. “Mengenai besarnya investasi tergantung seberapa besar kita akan memproduksi sefalosporin. Kita tidak hanya membidik pasar Indonesia. Kita harus berani ekspor,” kata Rusdi.

    Rusdi mengatakan, tahun lalu pasar sefalosporin dan produk turunannya di Indonesia berkisar 48 juta USD atau sekitar 600 Milyar. Nilai  itu masih sangat kecil dibandingkan Korea yang 80% dari seluruh total obatnya didominasi oleh sefalosporin.

    “Kalaupun potensi di Indonesia tidak muncul, Kimia Farma dan BPPT maupun Sungwun akan membidik pasar ekspor, karena yang menguasai pasar dunia hanyalah China. Kita akan mencoba bersaing baik secara teknologi maupun secara pasar,” kata Rusdi.

    Mengenai pendirian pabrik, lanjut Rusdi, tergantung seberapa cepat BPPT dan Sungwun bisa menghitung feasibility studinya dan juga sinergi teknologi yang akan dipakai. “Mudah-mudahan dalam waktu satu tahun bisa selesai sinergi teknologi dan feasibility study-nya. Lahan sudah tersedia, seharusnya akhir tahun depan sudah bisa kita bangun,” ungkap Rusdi optimis.

     

     

     

    Umum

    Inilah Rekomendasi Hasil Rakernas Kemenristekdikti 2018
    Kamis, 18 Januari 2018 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti saat membuka Rakernas di Medan. Foto Fatimah Harahap/Kemenristekdikti   Technology-Indonesia.com – Rapat Kerja Nasional (Rakernas)...

    iklantechno
    Kolom
    Capaian Kinerja 3 Tahun Kemenristekdikti
    23/10/2017 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti saat menyampaikan Capaian Kinerja Selama 3 tahun Kemenristekdikti di Gedung Binagraha, Jakarta, Senin (23/10/2017). Foto Timeh Harahap/Kemeristekdikti   Technology-Indo [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Profil Peneliti
    Basuki Hadimuljono: Infrastruktur Handal Kunci Utama Daya Saing
    05/08/2017

      Jakarta, Technology-Indonesia.com - Infrastruktur yang handal merupakan kunci utama dalam daya saing Indonesia. Penempatan infrastruktur dalam posisi sentral kebijakan pembangunan nasio [ ... ]


    Profil Peneliti Lainnya
      LOMBA UNTUK JURNALIS

      Info Produk
      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      ...
      Senin, 03 Juni 2013 14:45

      Inaco Siap Hadapi Pasar Global ASEAN

      P...
      Minggu, 05 April 2015 14:09

      Wellcomm Hadirkan Pelapis Ponsel Ekslusif

       ...
      Sabtu, 12 September 2015 23:41
      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      ...
      Jumat, 04 Desember 2015 16:29
      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      ...
      Kamis, 10 Desember 2015 12:12
      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      ...
      Senin, 25 Januari 2016 23:07
      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      ...
      Senin, 01 Februari 2016 11:21
      Angket
      Artikel Apa Yang Anda Sukai?
       
      iklanmapiptek