Homepage > Energi > Bahan Bakar > BPPT Kaji Energi Alternatif Berbasis Biomassa
Tanya Jawab
Hakteknas 2017, Pembangunan Maritim Berbasis Pengetahuan
25/04/2017

Jakarta - technology-indonesia.com - Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) tahun i [ ... ]


Lainnya
    Resensi
    Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia
    22/11/2017

      Judul Buku : Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia Penulis : Giyanto, Peter Mumby, Nurul Dhewani, Muhammad Abrar, dan Marindah Yulia Iswari Penerbit : Coremap-CTI, Pusat  [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Advertorial
    Lomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

      Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


    Artikel Lainnya

     

    Data Pengunjung
    Registered users : 5
    Online : 931
    Guest : 932
    Members : 0

    BPPT Kaji Energi Alternatif Berbasis Biomassa

    Penilaian Pengguna: / 0
    JelekBagus 

    Direktur PTSEIK, Dr. Adiarso berbicara di sela acara Indonesia-Japan Joint Seminar

    Krisis pasokan energi nasional di Indonesia telah memasuki era lampu kuning. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berupaya mencari terobosan teknologi untuk mengamankan pasokan bahan bakar nasional. Salah satunya melalui energi alternatif berbasis biomassa.

    Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia (PTSEIK) Adiarso mengatakan Indonesia memiliki potensi biomassa terbesar di ASEAN. Namun pemanfaatannya jauh dari negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Adiarso mengibaratkan Indonesia seperti Arab-nya biomassa, “Kalau Arab punya minyak kita punya biomassa.”

    Indonesia juga merupakan produsen terbesar kelapa sawit di dunia. Produksinya mencapai 32 juta ton pertahun. Sawit menghasilkan limbah berupa tanda kosong, batang maupun pome atau limbah cair. Potensi lain, Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua di dunia. Begitu juga tapioka yang terbesar ketiga di dunia.

    “Dalam upaya pemanfaatan biomassa, BPPT berupaya melakukan terobosan teknologi. Kalau kita  menggunakan biomassa, kita harus siap dengan teknologi yang bisa bersaing dengan bahan bakar fosil,” kata Adiarso di sela-sela Indonesia - Japan Joint Seminar bertema Appropriate Technology for Biomass Derived Fuel Production di Jakarta, Rabu (17/2/2016).

    Seminar ini merupakan salah satu output Project for Development of a Model System for Fluidized Bed Catalytic Gasification of Biomass Wastes and Following Liquid Fuel Production in Indonesia. Proyek ini merupakan kerjasama BPPT dengan Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS).

    Menurut Adiarso, program yang  berlangsung selama lima tahun dari 2014-2019 ini fokus pada pemanfaatan limbah tandan kosong sawit untuk menghasilkan bahan bakar cair dan gas untuk substitusi bahan bakar minyak.

    Pemanfaatan energi biomassa di Indonesia masih sangat jarang. Padahal dari sekian banyak renewable energy, hanya biomassa yang bisa diubah menjadi bahan bahan bakar cair atau gas. “Kita berupaya menghasilkan teknologi yang ramah lingkungan dan kompetitif supaya bisa diterima di market,” lanjutnya.

    Deputi TIEM-BPPT, Hamam Riza mengatakan, pemanfaatan energi renewable energy dimaksudkan agar Indonesia tidak tergantung pada bahan bakar minyak dan gas untuk keperluan energi. Pemerintah telah mencanangkan energi baru dan terbarukan itu harus memiliki komposisi 23% targetnya dalam bauran energi. “Sekarang ini pemanfaatan renewable energy kurang lebih 5% dari seluruh energi,” lanjutnya.

    Seminar ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah teknologi yang bisa diterapkan dalam pemanfaatan renewable energy. “Kita perlu teknologi yang kompetitif, tidak hanya punya teknologi yang kita impor kemudian kita terapkan di sini. BPPT sebagai teknology clearing house akan mengkaji supaya teknologi bisa tepat dan efisien digunakan di Indonesia,” kata Hamam.

    Katalis Tanah Liat

    Direktur Eksekutif Asian Peoples Exchange (Apex) Dr. Nao Tanaka sebagai salah satu pembicara mengungkapkan pengembangan teknologi gasifikasi biomassa fluida dengan katalis tanah liat. Keunikannya teknologi ini murah dan efektif mengurangi emisi gas yang diakibatkan dari proses gasifikasi. “Untuk pilot plant, kita akan membangun demontrasi plant berskala lebih dari 200 KW di salah satu pabrik kelapa sawit di Sumatera atau Kalimantan.”

    Teknologi ini memiliki efisiensinya tinggi. Pembersih termokimia untuk proses gasifikasi lebih efisien daripada pembakaran langsung. “Umumnya dalam proses pembersih termokimia, bahan biomassa harus dijadikan partikel kecil. Akan tetapi dalam teknologi ini biomassa partikel besar bisa langsung masuk biofier,” kata Tanaka.

    Menurut Tanaka, kualitas gas yang dihasilkan cukup bagus dibandingkan gasifikasi biasa, karena bisa melakukan gasifikasi dengan uap. Gasifikasi yang biasa dilakukan hanya memakai udara sehingga kualitas gas yang dihasilkan masih rendah.

    Teknologi ini juga berbiaya sangat murah. “Dibandingkan gasifikasi yang sudah dikembangkan negara berkembang, biaya investasi awal kira-kira hanya 1/5 saja. Katalis tanah liat juga sangat murah, seperseribu dari harga katalis biasa,” pungkasnya.

    Seminar ini menghadirkan para pembicara dari Jepang antara lain Prof. Sakanishi (Director General FREA, AIST), serta Prof Noda dan Prof. Takarada (Gunma University).  Tenaga ahli dari Indonesia yang memberikan presentasi antara lain Prof Subagjo, Prof. Yazid Binar dan Prof Heri (ahli katalis ITB), Prof. Armansya Tambunan (IPB) serta pembicara dari BPPT yaitu Dr. Adiarso, Dr. Ilhan Febijanto dan Dr. Joni Prasetyo.

     

     

     

    Umum

    Tingkatkan Peran Guru Besar dalam Pengembangan Peradaban
    Jumat, 23 Februari 2018 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti Mohamad Nasir dalam Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (FGB-ITB), di Gedung Balai Pertemuan Ilmiah ITB, Kamis (22/2/2018).Ageng Prasetyo/BKKP...

    iklantechno
    Kolom
    Capaian Kinerja 3 Tahun Kemenristekdikti
    23/10/2017 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti saat menyampaikan Capaian Kinerja Selama 3 tahun Kemenristekdikti di Gedung Binagraha, Jakarta, Senin (23/10/2017). Foto Timeh Harahap/Kemeristekdikti   Technology-Indo [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Profil Peneliti
    Basuki Hadimuljono: Infrastruktur Handal Kunci Utama Daya Saing
    05/08/2017

      Jakarta, Technology-Indonesia.com - Infrastruktur yang handal merupakan kunci utama dalam daya saing Indonesia. Penempatan infrastruktur dalam posisi sentral kebijakan pembangunan nasio [ ... ]


    Profil Peneliti Lainnya
      LOMBA UNTUK JURNALIS

      Info Produk
      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      ...
      Senin, 03 Juni 2013 14:45

      Inaco Siap Hadapi Pasar Global ASEAN

      P...
      Minggu, 05 April 2015 14:09

      Wellcomm Hadirkan Pelapis Ponsel Ekslusif

       ...
      Sabtu, 12 September 2015 23:41
      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      ...
      Jumat, 04 Desember 2015 16:29
      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      ...
      Kamis, 10 Desember 2015 12:12
      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      ...
      Senin, 25 Januari 2016 23:07
      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      ...
      Senin, 01 Februari 2016 11:21
      Angket
      Artikel Apa Yang Anda Sukai?
       
      iklanmapiptek