Homepage > Energi > Resensi > Sejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia
Tanya Jawab
Hakteknas 2017, Pembangunan Maritim Berbasis Pengetahuan
25/04/2017

Jakarta - technology-indonesia.com - Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) tahun i [ ... ]


Lainnya
    Resensi
    Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia
    22/11/2017

      Judul Buku : Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia Penulis : Giyanto, Peter Mumby, Nurul Dhewani, Muhammad Abrar, dan Marindah Yulia Iswari Penerbit : Coremap-CTI, Pusat  [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Advertorial
    Lomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

      Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


    Artikel Lainnya

     

    Data Pengunjung
    Registered users : 5
    Online : 1597
    Guest : 1598
    Members : 0

    Sejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

    Penilaian Pengguna: / 0
    JelekBagus 

    alt

    Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat
    Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK
    Tebal : viii + 206 halaman
    Cetakan : I, Agustus 2017
     
    Technology-Indonesia.com - Sejarah mencatat pengamatan cuaca dilakukan pertamakali pada tahun 1700an saat penjelajahan bangsa Eropa dengan kapal-kapalnya ke kepulauan Nusantara. Pada masa kolonisasi Belanda, penelitian cuaca diawali dr Onnen melalui penakaran hujan di Bogor pada 1841.
     
    Penelitian kebumian sebenarnya telah dilakukan para ilmuwan Eropa pada pertengahan abad ke 17 yaitu tahun 1652. Penelitian ini mengawali perburuan rempah dan minyak oleh bangsa Eropa di negeri timur untuk kemudian mengkolonisasi. 
     
    Survei rintisan ini mendorong Kolonial Belanda yang telah bercokol di negeri ini sejak awal abad 19 atau tahun 1806 membentuk kelembagaan untuk melakukan pemantauan cuaca dan survei kebumian.Penelitian ini diperlukan untuk mendukung pembukaan perkebunan dan pencarian bahan tambang terutama emas dan minyak  di Nusantara. 
     
    Belanda mendirikan lembaga Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau Observatorium Magnetik dan Meteorologi pada 1866 dan mengangkat Dr. Bergsma sebagai Direktur pertama. Selama berdirinya lembaga ini meningkatkan cakupan penelitian cuaca bukan hanya untuk pertanian tapi juga penerbangan. Pada era kolonial Jepang (1942-1945) instansi ini sempat berganti nama menjadi Kisho Kauso Kusho. 
     
    Memasuki kemerdekaan RI hingga abad 21 beberapa kali pergantian nama dilakukan mengikuti perubahan pergantian kebijakan pemerintah dan reorganisasi yang dilakukan. Beberapa nama yang pernah terpampang di instansi yang berpusat di Jakarta ini adalah Jawatan Meteorologi dan Geofisika, Lembaga Meteorologi dan Geofisika,  Direktorat Meteorologi dan Geofisika, Pusat Meteorologi dan Geofisika, dan Badan Meteorologi dan Geofisika. 
     
    Melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008, BMG berganti nama menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sejalan dengan pergantian nama itu reskturisasi dilakukan dengan menambah bidang Klimatologi. Penelitian iklim belakangan menjadi fokus dikaitkan dengan gejala perubahan iklim yang kian menguat dengan efek yang menimbulkan cuaca ekstrem  di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Fenomena alam ini menjadi perhatian negara di dunia karena pengaruhnya bagi perekonomian dan pembangunan.
     
    Dalam pemantau cuaca dan iklim BMKG meningkatkan kerjasama dengan berbagai lembaga riset dunia antara lain WMO dan NOAA untuk melakukan penelitian atmosfer dan kelautan, antara lain untuk mengetahui kondisi gas karbon di atmosfer dan pemahami fenoma ENSO.
     
    Peningkatan kemampuan dan keahlian dan jumlah personel BMKG dilakukan antara lain dengan meningkatkan status Akademi Meteorologi dan Geofisika menjadi Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG). 
     
    Dukungan data dan informasi pemantauan dan prediksi cuaca dan peringatan dini bencana hidrometeorologi dan geofisika pun dilakukan BMKG dengan meningkatkan jejaring pemantau MKG dan jejaring layanan komunikasi dan informasi ke instansi terkait dan ke seluruh Indonesia. 
     
    Buku yang ditulis dalam rangka 70 tahun BMKG ini mencoba menelusuri rekam jejak peristiwa lahirnya pengamatan dan pengukuran cuaca, iklim, dan geofisika selama 150 tahun di Indonesia. Selama dua periode penjajahan hingga memasuki masa kemerdekaan dan sampai saat ini pengamatan MKG ini tak pernah berhenti.
     
    Selain sejarah, buku ini juga mencatat hasil-hasil riset dan inovasi BMKG, potret sumber daya manusia MKG, produk dan layanan BMKG, serta tantangan dan masa depan. Buku ini juga berisi pesan dan kesan dari berbagai tokoh terkait peran BMKG. 
     
    Dalam jangka panjang peran BMKG untuk memberikan layanan informasi MKG kian diperlukan. Salah satunya sebagai upaya peredaman dampak bencana hidrometeorologi dan kebumian yang intensitasnya terus meningkat dan skala kebencanaannya kian besar dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia.
     

     

     

    Umum

    Revolusi Industri 4.0 Harus Diantisipasi Secara Serius
    Sabtu, 17 Februari 2018 | Setiyo Bardono

    Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Konvensi Kampus XIV dan Temu Tahunan XX Forum Rektor Indonesia (FRI) Tahun 2018. Foto Biro Pers...

    iklantechno
    Kolom
    Capaian Kinerja 3 Tahun Kemenristekdikti
    23/10/2017 | Setiyo Bardono

    Menristekdikti saat menyampaikan Capaian Kinerja Selama 3 tahun Kemenristekdikti di Gedung Binagraha, Jakarta, Senin (23/10/2017). Foto Timeh Harahap/Kemeristekdikti   Technology-Indo [ ... ]


    Artikel Lainnya
    Profil Peneliti
    Basuki Hadimuljono: Infrastruktur Handal Kunci Utama Daya Saing
    05/08/2017

      Jakarta, Technology-Indonesia.com - Infrastruktur yang handal merupakan kunci utama dalam daya saing Indonesia. Penempatan infrastruktur dalam posisi sentral kebijakan pembangunan nasio [ ... ]


    Profil Peneliti Lainnya
      LOMBA UNTUK JURNALIS

      Info Produk
      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      WL-330NUL, Router Terkecil di Dunia dari ASUS

      ...
      Senin, 03 Juni 2013 14:45

      Inaco Siap Hadapi Pasar Global ASEAN

      P...
      Minggu, 05 April 2015 14:09

      Wellcomm Hadirkan Pelapis Ponsel Ekslusif

       ...
      Sabtu, 12 September 2015 23:41
      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      Piagio Terus Gali Pasar Indonesia

      ...
      Jumat, 04 Desember 2015 16:29
      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      Wellcomm Shop Merambah Pulau Lombok

      ...
      Kamis, 10 Desember 2015 12:12
      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      Plantronic Smartwearable Teman Beragam Aktivitas

      ...
      Senin, 25 Januari 2016 23:07
      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      BIPBIP, Jam Tangan Pintar Pelindung Buah Hati

      ...
      Senin, 01 Februari 2016 11:21
      Angket
      Artikel Apa Yang Anda Sukai?
       
      iklanmapiptek