Homepage
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

Inovasi Teknologi untuk Mendukung Swasembada Pangan

Penilaian Pengguna: / 1
JelekBagus 

Swasembada pangan telah menjadi isu penting pada setiap era pemerintahan di Indonesia. Orde Baru, misalnya, amat gencar mengejarnya lewat program Panca Usaha Tani, Bimmas dan  Insus. Hasilnya, swasembada beras tercapai tahun 1984. Atas capaian itu, Pemerintah Indonesia mendapat penghargaan dari FAO di Roma, Italia.

Swasembada untuk lima komoditas juga telah dicanangkan era Pemerintahan SBY (Kabinet Indonesia Bersatu I dan II). Melalui Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT),  swasembada  beras kembali tercapai tahun 2009. Demikian juga untuk swasembada jagung. Sementara untuk tiga komoditas lainnya, gula, kedelai dan daging sapi, swasembada masih cita-cita sampai era KIB berakhir.

Kini, era Jokowi-JK, dengan mengusung Nawa Cita Kabinet Kerja, juga bertekad untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan diterjemahkan sebagai kemampuan mencukupi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri, mengatur kebijakan pangan secara mandiri, serta melindungi dan menyejahterakan petani sebagai pelaku utama usaha pertanian pangan. Pembangunan pertanian 2014-2019 telah diarahkan untuk memasang target:  (1) Pencapaian swasembada padi, jagung dan kedelai serta peningkatan produksi gula dan daging, (2) peningkatan diversifikasi pangan, (3) peningkatan komoditas bernilai tambah dan berdaya saing dalam memenuhi pasar ekspor dan substitusi impor, (4) penyediaan bahan baku bioindustri dan bioenergi, (5) peningkatan pendapatan keluarga petani, serta (6) akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah yang baik.

Secara khusus, Presiden Jokowi minta agar swasembada beras, jagung dan kedelai bisa dicapai dalam tiga tahun. Mungkinkah target itu bisa dicapai pada waktunya? Menristek Mohamad Nasir pada Agrinex Expo 2015 (20/03) di Jakarta mengakui kedaulatan pangan tidak mudah diwujudkan di tengah arus perdagangan dunia dan perubahan iklim ekstrim yang melanda banyak negara, termasuk Indonesia.

Namun,  untuk mencapai dan mempertahankan swasembada beras dan jagung sepertinya tidak terlalu sulit. Minimal kita dapat belajar dari succes story swasembada beras tahun 1984 dan 2009. Tetapi, untuk mencapai swasembada kedelai pada 2017 memang  diperlukan terbosan baru dan operasi khusus mengingat ada beragam masalah yang menyelimutinya

Mengejar swasembada pangan sesungguhnya bisa dicapai dalam tiga tahun. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sendiri pernah menyampaikan optimismenya. Saat penandatanganan MOU kerjasama antara Kementan dan IPB, Mentan optimis produksi 73 juta ton GKG tahun 2015 bisa tercapai.  Bila areal tanam 7,1 juta hektar bisa dua kali panen  setahun, menurutnya, produksi padi Indonesia ke depan cukup berlimpah.

Maka, khusus untuk beras dan jagung  tidak mustahil dapat diraih lebih cepat dari targetnya. Syaratnya, berbagai pemangku kepentingan terkait dapat bersinergi dalam kerjasama terpadu dan terarah. Segala potensi sumberdaya harus dikerahkan, termasuk berbagai teknologi dan inovasi yang tersebar di berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi. 

Kemandirian pangan, diakui  Menristek, akan terwujud, apabila ada sentuhan IPTEK serta kekuatan seluruh stake holder menyatu untuk menyasar program dengan target tertentu dalam bentuk konsorsium / sinergi. Yang tidak kalah penting, adalah upaya menurunkan ketergantungan konsumsi pada beras, dengan meningkatkan diversifikasi dengan pangan nusantara (lokal).

Pentingnya peran inovasi teknologi pertanian dalam meningkatkan produksi pangan telah terbukti secara empiris. Hasil penelitian Tota Suhendrata (IPB, 2010) di Jawa Tengah menunjukkan bahwa penggunaan benih padi varietas unggul bisa meningkatkan padi 1-2,4 ton per ha atau sekitar 16-39%. Sementara penerapan teknik budidaya PTT atau jajar legowo dapat meningkatkan produktivitas 14-37&.

Terkait dengan inovasi teknologi, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Haryono menyatakan pihaknya telah menyiapkan sedikitnya 400 paket teknologi untuk mendukung upaya pencapaian swasembada pangan di Indonesia.  Inovasi tersebut mencakup varietas benih unggul, pupuk dan pengendalian hayati, perangkat uji, alat dan mesin pertanian, pengembangan produk olahan, informasi dasar, serta bioenergi dan lingkungan.

Untuk mendukung swasembada pangan, Balitbangtan telah menghasilkan lebih dari 200 varietas unggul. Antara lain sedikitnya 33 variates ungggul baru padi seperti Inpari (10 varietas untuk padi irigasi), Inpara (5 varietas untuk padi lahan rawa), Inpago (5 varietas untuk padi lahan kering), serta Hipa (13 varietas untuk padi hibrida); 14 varietas unggul jagung hibrida; dan 6 varietas unggul kedelai.  Sisanya, berupa varietas unggul sayuran, buah-buahan, tanaman obat, tanaman hias, perkebunan dan peternakan.

Selain varietas benih unggul, Balitbangtan juga menawarkan 17 pupuk hayati dan 25 pestisida hayati, serta 6 perangkat uji kesuburan dan hara tanah.  Untuk mendukung pertanian yang hijau dan berkelanjuta, juga tersedia karya inovasi berupa 26 alat tanam dan 21 mesin pertanian, 29 teknologi proses, serta tujuh produk bioenergi dan lingkungan. Yang tidak kalah penting, Balitbangtan juga menyajikan 12 paket informasi dasar seperti peta kalender tanam, atlas arahan teknologi mekanisasi pertanian, peta lahan sawah. Peta kekeringan, kesesuaian lahan, pemupukan, sumberdaya iklim, zona agroekologi,  dan peta aliran permukaan DAS.

Di luar Balitbangtan, lembaga riset lain seperti BPPT,LIPI, BATAN dan sejumlah perguruan tinggi ternama seperti IPB, UGM, ITB, Unpad,  Unibraw, Unhas, Unair, ITS, dan Undayana juga memiliki banyak karya inovasi teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan produksi dan mutu hasil pertanian, termasuk pangan.

IPB, misalnya, telah mengembangkan berbagai varietas unggul padi baru yang bisa menghasilkan produktivitas 10-12 ton per ha (produktivitas rata-rata nasional 5,1 ton per ha). Sementara UGM sudah mengembangkan varietas benih unggul kedelai dengan produktivitas 2-3 ton per ha (produktivitas rata-rata nasional 1,1 ton per ha). BATAN juga memiliki sejumlah hasil inovasi varietas unggul mutan padi dan kedelai. Sementara LIPI dan BPPT juga banyak menghasilkan karya inovasi teknologi proses pangan.

Bila ratusan karya inovasi teknologi itu bisa diterapkan bersama implementasi program pembangunan pertanian seperti cetak sawah baru, optimalisasi lahan, perluasan lahan jagung dan kedelai di sejumlah provinsi dan kabupaten unggulan, pembangunan dan rehabilitasi irigasi dan jalan usaha tani, kita berani menghitung bakal adanya peningkatan produksi pangan yang signifikans.

Catatan dan perhatian khusus perlu dilakukan untuk mendukung upaya akselerasi peningkatan produksi kedelai di tanah air. Yang perlu dibangkitkan pertama-tama adalah ghairah menanam. Tak aneh jika sejak ada kebijakan deregulasi impor kedelai, 1998, luas area tanam kedelai dari tahun ke tahun terus menurun. Sudah cukup lama petani tidak bergairah menanam kedelai karena beberapa alasan. Pertama,  menanam kedelai tidak menguntungkan karena harganya relatif murah. Kedua, produktivitas kedelai sebagai tanaman subtropis juga relatif rendah sehingga usaha tani kedelai kalah bersaing dibanding usaha tani padi, jagung atau tanaman palawija lainnya.  Di luar Jawa, petani kedelai juga kalah bersaing dengan petani hortikultura maupun petani perkebunan.

Maka, selain perlu adanya sentuhan dan pengawalan inovasi teknologi –berupa varietas benih unggul dan teknologi budidaya—petani perlu didukung oleh kebijakan insetif baru untuk menjamin adanya harga dan tataniaga yang menguntungkan. Pada saat  yang sama, regulasi impor kedelai juga perlu diperketat untuk melindungi kepentingan petani lokal.

Selain banyak mendukung program intensifikasi pertanian, inovasi teknologi tentu juga  mutlak diperlukan untuk mensukseskan progtram ekstensifikasi pertanian. Terlebih, dalam upaya ektensifikasi di kawasan atau calon kawasan pertanian baru --seperti Merauke, Pulau Buru dan Kalimantan. Untuk membangun pertanian di Merauke, bahkan juga diperlukan inovasi berupa rekasaya sosial dan budaya lokal. Kalau tidak, kegagalan misi Food Estate yang pernah coba pada era KIB-SBY bisa terulang. (Dedi Junaedi, alumni IPB dan redaktur Technology-indonesia.com)

 

 

Umum

article thumbnail Sebelas Institusi Deklarasikan Konsorsium Riset Samudera
Selasa, 26 September 2017 | Setiyo Bardono

  Jakarta, Technology-Indonesia.com – Sebelas kementerian/lembaga dan universitas sepakat mendeklarasikan Konsorsium Riset Samudera, di Jakarta, Selasa...

Review

article thumbnail Kembali Menanti Energi Alternatif
Jumat, 19 Maret 2010

Hal itu, lanjut dia, semakin menaikkan ketergantungan Indonesia kepada BBM  untuk sektor transportasi. "Padahal, sekitar 60 persen BBM diserap sektor transportasi," ujarnya.

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailMenristek: SINas Iptek Dukung Pertumbuhan Ekonomi
22/08/2010 | Setiyo Bardono

Menristek Suharna Surapranata menegaskan bahwa pembentukan Sistem Inovasi Nasional (SINas) tidak bisa ditawar-tawar lagi. Untuk itu, perlu segera dibangun SINas yang berbasis pada Sistem Nasional Ipte [ ... ]


Artikel Lainnya
Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek