Homepage
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

Kemeristekdikti Dukung Penguatan Riset Melalui Regulasi

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 
alt
 
JAKARTA - Inovasi merupakan salah satu variabel pengukur daya saing bangsa. Karena itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) secara konsisten terus memfasilitasi terselenggaranya riset sebagai penghasil inovasi di tanah air secara kondusif, melalui berbagai program.  
 
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di Jakarta, Selasa (6/12/2016). Rakor yang diselenggarakan Kemenristekdikti ini bertema “Penguatan Riset di Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang kepada Masyarakat untuk Meningkatkan Kemandirian dan Daya Saing Bangsa”.
 
Muhammad Dimyati mengatakan tahun ini merupakan tahun untuk melakukan sosialisasi peraturan baru yang mendukung kegiatan riset di Indonesia. Misalnya, Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 106 tahun 2016 yang menekankan riset berbasis output dibandingkan pertanggungjawaban administrasi.
 
"Artinya rekan-rekan akan lebih dibebaskan menghasilkan output dibandingkan mengurus berkas-berkas administratif yang membebankan dan meresahkan," tutur Dimyati dihadapan peserta Rakor dari 113 institusi yang terdiri dari LPNK Ristek, Badan Litbang Kementerian dan Daerah, LPPM perguruan tinggi negeri maupun swasta, Kopertis, dan lain-lain.
 
Menurut Dimyati, saat ini peneliti Indonesia telah menghasilkan sekitar 9.000 publikasi internasional terindeks. Pencapaian ini melebihi target yang dituangkan Renstra terkait penelitian yaitu 6.000 publikasi internasional. Hal ini merupakan hasil kerja keras para peneliti dengan berbagai perbaikan regulasi yang selama ini didorong dan dibuat oleh pemerintah. 
 
Trend usulan proposal riset pada tahun 2015 mencapai 28.200 proposal, meningkat sekitar 45.000 proposal pada 2016. Dari jumlah tersebut yang mampu dibiayai APBN pada 2015 sekitar 15.000 proposal dan ditargetkan sekitar 16.000 proposal pada 2017. Dimyati mengatakan trend pembiayaan terlihat naiik, namun sebenarnya hanya sekitar 40% saja dari keseluruhan. Artinya, pemerintah masih harus terus bekerja keras. 
 
Selain urusan administrasi, keterlambatan anggaran juga menjadi salah satu keresahan peneliti. Untuk itu, rencana penetapan proposal tahun 2017 akan dilakukan pada pertengahan Desember 2016. “Sehingga pada awal Januari sudah bisa dilakukan penandatanganan kontrak untuk melaksanakan riset. Yang memungkinkan para peneliti mendapatkan anggaran penelitian lebih awal,” lanjut Dimyati.
 
Dimyati menyampaikan, Permenkeu Nomor 106 mendorong peneliti untuk melakukan perbaikan dan tata kelola. Karena itu dalam waktu dekat akan dilakukan kursus sertifikasi untuk para reviewer proposal dan reviewer output agar melaksanakan penyaringan proposal dan output dapat lebih baik lagi. Tim penilai/reviewer akan menjadi ujung tombak dalam penjaminan mutu penelitian. 
 
Untuk itu, dikeluarkan Pedoman Pembentukan Komite Penilaian dan/atau Reviewer dan Tatacara Pelaksanaan Penilaian Penelitian Menggunaan Standar Biaya Keluaran tahun 2017 dalam bentuk Permenristekdikti Nomor 69 Tahun 2016. 
 
Tahun 2017 merupakan tahun pertama penerapan anggaran Riset Berbasis Output, dimana peneliti akan lebih fokus dalam pelaksanaan riset, daripada urusan administrasi. “Belum semua Lembaga Litbang menerapkan Peraturan Riset Berbasis Output tersebut pada tahun 2017. Namun tentu ke depan akan secara bertahap semua Lembaga Litbang akan menerapkannya, sesuai dengan dinamika yang ada,” ungkapnya.
 
Dimyati menambahkan bahwa era ke depan adalah era perubahan mendasar dalam melaksanakan riset. Tentu dengan berbagai upaya perbaikan yang dilakukan  pemerintah dalam regulasi, pemberian intensif, dan kemudahan lainnya. Diharapkan hasil riset ke depan akan lebih banyak menghasilkan publikasi internasional, kekayaan intelektual, dan prototype yang siap dihilirisasi.
 
“Dalam konteks tersebut kami terus dan sedang melaksanakan berbagai  penyederhanaan skema dan regulasi yang lebih membuat kondusif bagi para peneliti,” pungkasnya.
 
 

Artikel Terkait

Umum

article thumbnail Ecodome, Wahana Baru di Kebun Raya Bogor
Rabu, 15 November 2017 | Setiyo Bardono

Ecodome, wahana baru di Kebun Raya Bogor (Foto Humas LIPI)   Technology-Indonesia.com - Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PKT...

Review

article thumbnail Memperbesar Peluang Energi Baru Terbarukan
Jumat, 19 Maret 2010

  “Sudah ditargetkan melalui Perpres No 5/2006 untuk mengurangi penggunaan minyak bumi. Namun,  hingga saat ini, belum ada action plan pemerintah kendati secara kebijakan atau regulasi...

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailMembumikan Jembatan Teleportasi Einstein-Rosen
21/08/2015 | Dedi Junaedi

Seperti kisah di novel fiksi ilmiah, ahli fisika kini berusaha merakit sebuah ‘lubang cacing’ (wormhole) magnetik untuk menjadi wahana transportasi ajaib. Menggunakan teori ‘jembatan Einstein-Ro [ ... ]


Artikel Lainnya
Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek