Homepage
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

BIG Gunakan Citra Satelit untuk Pemetaan Desa

Penilaian Pengguna: / 1
JelekBagus 

JAKARTA - Tantangan pembangunan nasional berbasis desa dan daerah tertinggal antara lain ketersediaan data dan informasi geospasial yang memadai. Ketersediaan maupun tingkat kedetilan masih sangat tebatas. Pelaksanaan pembangunan desa membutuhkan informasi geospasial skala besar berupa peta yang menampilkan kondisi desa dengan baik.

Badan Informasi Geospasial (BIG) menjembatani ketersediaan informasi geospasial ini dengan menggunakan citra penginderaan jauh beresolusi tinggi. Peta citra ini menjadi dasar pemetaan tematik dasar wilayah desa yang terdiri dari batas administrasi, sarana dan prasarana, serta penutup dan penggunaan lahan.

Kepala BIG, Priyadi Kardonomengatakan peta citra satelit disiapkan oleh BIG bekerjasama dengan LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional). “Luas Indonesia sekitar 1,8juta km2. Pada 2015, BIG baru bisa menyiapkan citra satelit 925ribu km2. Sisanya diharapkan dilaksanakan pada 2016,” kata Priyadi di sela acara Peluncuran Peta Desa untuk Percepatan Pembangunan Desa dan Kawasan Perdesaan di Jakarta, Selasa (16/2/2016).

Peta Desa yang diluncurkan berupa Peta Citra Desa, Peta Sarana dan Prasarana Desa, serta Peta Penutup Lahan dan Penggunaan Lahan. Peta Desa yang diluncurkan tersaji dalam skala 1:5000. “Kita juga mengkaji Peta Desa yang paling bagus itu dituangkan dalam skala berapa. Kita bisa membuat dalam skala 1:2500, 1:5000, atau 1:10.000. Tergantung dari luas desa itu sendiri,” kata Priyadi.

Dalam proses pembuatan Peta Desa, lanjut Priyadi, peta citra akan dikoreksi atau Orthoretifikasi, kemudian ditambahkan koreksi dengan Ground Control Point (GCP),  sehingga peta citra ini bisa sama dengan peta itu sendiri. “Penampakan dari citra satelit lebih natural karena resolusinya 50 cm x 50 cm tiap pixelnya. Sehingga penampakan desa dari atas terlihat jelas,” ungkapnya.

Peta Sarana dan Prasarana lebih mengambarkan kondisi desa misalnya rumah, kantor, rumah sakit, jalan, dan lain-lain. Peta ini bisa digunakan desa untuk merencanakan pembangunan misalnya pembangunan jalan atau saluran irigasi. Sementara Peta Penutup dan Penggunaan Lahan untuk mengetahui luasan dari kondisi sekarang seperti luas sawah, semak belukar, kebun, dan lain-lain.

Menurut Priyadi, salah satu kendala penyiapan Peta Desa adalah masalah waktu. Menurut data Kemendagri, Indonesia memiliki 74.754 desa dan 8.412 kelurahan. “BIG sendiri sudah menyiapkan sekitar 1.600 desa yang sudah bisa tergambarkan. Pada 2016 akan kita tambahkan sekitar 3.100 desa lagi,” kata Priyadi

Untuk pembuatan peta desa, lanjut Priyadi, ada data lain yang bisa digunakan misalnya Peta RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) yang sudah dibuat oleh beberapa kabupaten. Peta Persil dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang ada sekitar 20.000 desa juga bisa digunakan. “Namun perlu ada penggambaran kembali sehingga unsur-unsur di peta BPN tadi bisa menjadi Peta Desa.”

Priyadi berharap pembuatan peta desa tidak berlangsung lama. Untuk proses penggambaran batas desa dalam satu kabupaten memerlukan sekitar 2 minggu - 1 bulan. Prosesnya, para Kepala Desa dalam satu kabupaten dikumpulkan untuk melihat peta citra. Kepala Desa diminta menggambarkan batas desanya yang harus disetujui oleh desa tetangganya. Kalau semua setuju kemudian dibuat berita acara.

Harapannya, proses ini bisa mempercepat penyelesaian batas administrasi yang menurut Kemendagri ada 975 segmen, namun baru terselesaikan 30 persen. Dengan sistem kartometrik secara deliniasi batas yang indikatif bisa digambarkan di atas citra satelit. “Kalau semua kabupaten selesai maka semua yang terkait masalah administrasi ini akan bisa mulai diurai,” kata Priyadi.

Dalam pembuatan Peta Desa, BIG telah menyiapkan mulai dari SOP, standar, prosedur, juklak dan juknis. “Siapa saja boleh mengerjakan asal menggunakan standar dan spesifikasi dari BIG. Agar peta desa ini bisa masuk dalam sistem pemetaan nasional yang disiapkan oleh BIG,” pungkasnya.

 

 

 

 

Artikel Terkait

Umum

article thumbnail Ecodome, Wahana Baru di Kebun Raya Bogor
Rabu, 15 November 2017 | Setiyo Bardono

Ecodome, wahana baru di Kebun Raya Bogor (Foto Humas LIPI)   Technology-Indonesia.com - Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PKT...

Review

article thumbnail Dibalik Musibah Uji Coba Roket Kendali Lumajang
Rabu, 03 Februari 2010

  Minggu lalu, terbetik berita salah satu roket uji coba milik konsorsium dibawah Kementerian Riset dan Teknologi di wilayah Lumajang, Jawa Timur melenceng dari sasaran. Para wakil konsorsium yang...

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailMenristek Dikti: Penelitian Harus Dirasakan Masyarakat
20/08/2015 | Dedi Junaedi

Dalam kunjungan kerja ke Jember,  Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) Prof Muhammad Nasir mengharapkan agar hasil-hasil penelitian di Indonesia  bisa berdampak baik dan m [ ... ]


Artikel Lainnya
Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek