Homepage
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

La Nina Diprediksi Muncul Di Musim Kemarau

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

JAKARTA - La Nina dengan intensitas lemah hingga sedang berpeluang muncul di bulan Juli, Agustus, hingga September 2016. Kemunculan La-nina ini akan diikuti fenomena Dipole Mode Negatif yang berdampak pada meningkatnya potensi curah hujan pada musim kemarau dan musim hujan tahun 2016/2017. Kondisi ini menyebabkan beberapa daerah mengalami kemarau basah.

Fenomena Dipole Mode Negatif terjadi karena kondisi suhu muka laut di bagian barat Sumatera lebih hangat dari suhu muka laut di Pantai Timur Afrika. Fenomena ini menambah pasokan uap air yang mengakibatkan bertambahnya curah hujan untuk wilayah Indonesia Bagian Barat.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya mengatakan saat ini, kondisi angin monsoon timuran mulai menguat, sehingga Indonesia berada pada musim peralihan. “Berdasarkan hasil evaluasi musim kemarau sampai Mei 2016, baru sekitar 31.6% daerah yang masuk musim kemarau,” kata Andi Eka di Kantor BMKG Kemayoran, Jakarta, pada Jumat (3/6/2016).

Kondisi dipole mode yang diprediksi menguat pada Juli hingga September, dapat memicu bertambahnya potensi curah hujan di Wilayah Barat Sumatera dan Jawa. Sementara wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara sifat hujannya pada musim kemarau 2016 diprediksi normal.

Daerah-daerah yang diprediksi mengalami curah hujan di atas normal pada periode musim kemarau meliputi Sumatera Utara Bagian Barat, Sumatera Barat bagian Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa bagian Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawsi Tenggara, dan Papua.

Menurut Andi Eka, kemarau basah akan berdampak positif pada sektor pertanian karena meningkatnya luas lahan tanam dan produksi padi. Namun, kemarau basah berdampak negatif pada komoditas perkebunan seperti tembakau, tebu, teh serta tanaman hortikultura lainnya.

Kondisi La Nina dampak positif bagi perikanan, sebab penangkapan ikan tuna semakin meningkat. Sementara bagi para petambak garam, kurang begitu menguntungkan.

 



 

Umum

article thumbnail 25 Tahun Hubungan Bilateral Indonesia-Armenia
Kamis, 21 September 2017 | Setiyo Bardono

  Technology-Indonesia.com - Perayaan Hari Kemerdekaan Armenia ke 26 yang jatuh pada 21 September bertepatan dengan peringatan ke 25 hubungan bilateral Indonesia dan...

Review

article thumbnail Memperbesar Peluang Energi Baru Terbarukan
Jumat, 19 Maret 2010

  “Sudah ditargetkan melalui Perpres No 5/2006 untuk mengurangi penggunaan minyak bumi. Namun,  hingga saat ini, belum ada action plan pemerintah kendati secara kebijakan atau regulasi...

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailMenristek: SINas Iptek Dukung Pertumbuhan Ekonomi
22/08/2010 | Setiyo Bardono

Menristek Suharna Surapranata menegaskan bahwa pembentukan Sistem Inovasi Nasional (SINas) tidak bisa ditawar-tawar lagi. Untuk itu, perlu segera dibangun SINas yang berbasis pada Sistem Nasional Ipte [ ... ]


Artikel Lainnya
Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek