Homepage
Resensi
article thumbnailIndeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia

  Judul Buku : Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia Penulis : Giyanto, Peter Mumby, Nurul Dhewani, Muhammad Abrar, dan Marindah Yulia Iswari Penerbit : Coremap-CTI, Pusat  [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

La Nina Diprediksi Muncul Di Musim Kemarau

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

JAKARTA - La Nina dengan intensitas lemah hingga sedang berpeluang muncul di bulan Juli, Agustus, hingga September 2016. Kemunculan La-nina ini akan diikuti fenomena Dipole Mode Negatif yang berdampak pada meningkatnya potensi curah hujan pada musim kemarau dan musim hujan tahun 2016/2017. Kondisi ini menyebabkan beberapa daerah mengalami kemarau basah.

Fenomena Dipole Mode Negatif terjadi karena kondisi suhu muka laut di bagian barat Sumatera lebih hangat dari suhu muka laut di Pantai Timur Afrika. Fenomena ini menambah pasokan uap air yang mengakibatkan bertambahnya curah hujan untuk wilayah Indonesia Bagian Barat.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya mengatakan saat ini, kondisi angin monsoon timuran mulai menguat, sehingga Indonesia berada pada musim peralihan. “Berdasarkan hasil evaluasi musim kemarau sampai Mei 2016, baru sekitar 31.6% daerah yang masuk musim kemarau,” kata Andi Eka di Kantor BMKG Kemayoran, Jakarta, pada Jumat (3/6/2016).

Kondisi dipole mode yang diprediksi menguat pada Juli hingga September, dapat memicu bertambahnya potensi curah hujan di Wilayah Barat Sumatera dan Jawa. Sementara wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara sifat hujannya pada musim kemarau 2016 diprediksi normal.

Daerah-daerah yang diprediksi mengalami curah hujan di atas normal pada periode musim kemarau meliputi Sumatera Utara Bagian Barat, Sumatera Barat bagian Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa bagian Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawsi Tenggara, dan Papua.

Menurut Andi Eka, kemarau basah akan berdampak positif pada sektor pertanian karena meningkatnya luas lahan tanam dan produksi padi. Namun, kemarau basah berdampak negatif pada komoditas perkebunan seperti tembakau, tebu, teh serta tanaman hortikultura lainnya.

Kondisi La Nina dampak positif bagi perikanan, sebab penangkapan ikan tuna semakin meningkat. Sementara bagi para petambak garam, kurang begitu menguntungkan.

 



 

Umum

article thumbnail DRN Sampaikan Naskah Akademik untuk Undang-Undang Inovasi
Kamis, 23 November 2017 | Setiyo Bardono

Ketua Dewan Riset Nasional (DRN), Bambang Setiadi dalam Seminar Nasional bertema “Inovasi, Invensi, dan Komersialisasi Teknologi untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional” di Hotel...

Review

article thumbnail Dibalik Musibah Uji Coba Roket Kendali Lumajang
Rabu, 03 Februari 2010

  Minggu lalu, terbetik berita salah satu roket uji coba milik konsorsium dibawah Kementerian Riset dan Teknologi di wilayah Lumajang, Jawa Timur melenceng dari sasaran. Para wakil konsorsium yang...

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailPemanasan Global Meningkatkan Zona Mati Lautan
21/08/2015 | Dedi Junaedi

Bukti-bukti di Zaman Es menunjukkan peningkatan suhu bisa meningkatkan luas area air laut dengan sedikit oksigen. Rendahnya kadar oksigen membuat daya dukung terhadap kehidupan di laut menurun drastic [ ... ]


Artikel Lainnya
Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek