Homepage > Bencana > Bencana Kebumian > Menguak Misteri Tragedi AirAsia
Resensi
article thumbnailSejarah Panjang Pengamatan Cuaca di Indonesia

Judul Buku : BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat Penulis : Tim Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbit : BMKG bekerjasama dengan MAPIPTEK Tebal : viii + 206 halam [ ... ]


Artikel Lainnya
Advertorial
article thumbnailLomba Fotografi Kiprah 50 Tahun LIPI

  Technology-Indonesia.com - Memperingati 50 tahun kiprah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bangsa, LIPI bekerjasama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [ ... ]


Artikel Lainnya

 

Data Pengunjung
Registered users : 5
Online : 990
Guest : 990
Members : 0

Menguak Misteri Tragedi AirAsia

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Apa yang terjadi dengan Air Asia QZ8501? Mengapa pesawat itu jatuh, apakah masalah teknis atau human error? Sampai hari ke-15 semuanya masih misteri. Black box yang diharapkan segera bisa menguak kejadian sebenaranya hingga kini masih dalam status pencarian. 

Memang, ekor pesawat berhasil ditemukan dan di angkat ke darat dari kedalaman laut Selat Karimata tepat pada ke-14. Tapi, keberadaaan ‘kotak hitam’ itu masih belum bisa dipastikan lokasinya. Pencarian masih terus dilakukan dengan mengerahkan segala daya dan kemampuan teknologi yang ada.

Karena sudah tak ada di ekor pesawat, muncul dugaan perekam aktivitas penerbangan itu sudah terlontar dari tempatnya.  Indikasinya, sebelum ekor pesawat diangkat  Tim SAR dan KNKT di Kapal KN Jadayat dikabarkan mengendus singal ping (diduga terpancar dari black box) dari lokasi sekitar 500 m dari lokasi tempat terbenamnya ekor Airasia.  Artinya, untuk bisa menguak tabir misteri tragedi Airasia kita perlu bersabar lagi sampai menunggu black box ditemukan dan bisa dianalisas hasil rekamannya. Semoga saja ‘kotak hitam’ itu masih berfungsi normal dalam arti rekamannya masih terbaca,

Sementara analisis yang akurat dan akuntabel belum bisa dilakukan, sejauh ini  banyak berkembang berbagai wacana, analisis dan prediksi dari kalangan ahli, pengamat, praktisi hingga rekaan dari ‘pandangan’ paranormal yang  berbau mistis. Pada hari-hari awal, muncul analisis dari pengamat bahwa cuaca buruk mungkin faktor penyebabnya. Kondisi  awan Cumulonimbus (CB) yang tinggi dan tebal diduga menjadi pemicu jatuhnya Airasia.

Sebagaimana dilansir sejumlah media cetak dan online, pada saat kejadian, awan CB memang terbentuk dalam rute penerbangan Airasia pagi itu. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di lokasi hilangnya pesawat Air Asia ditemukan awan cumulonimbus (Cb) yang sangat tebal mencapai 5-10 kilometer. Keberadaan awan Cb sering dianggap sebagai momok bagi kalangan penerbangan. Pengamat Penerbangan, Jusman Syafii Djamal, mengatakan awan cumulonimbus (Cb) dapat menyebabkan turbulensi dan mesin pesawat mati.

''Di dalam awan cumulonimbus terdapat butiran es yang mengalir. Kalau butiran ini masuk ke engine, dapat menyebabkan engine mati,” ujar Jusman seperti dikutip Republia.co.id. Di dalam awan cumulonimbus, terdapat aliran butiran es yang dapat membekukan mesin pesawat sehingga menyebabkan kerusakan dan pesawat tidak bisa terbang lagi. Di dalam awan cumulonimbus juga terdapat badai petir yang mengilat-kilat.

AirAsia dengan nomor penerbangan QZ 8501 dikabarkan hilang kontak pada hari Minggu (28/12/2014) pagi. Pesawat jenis Airbus 320-200 tersebut terbang dari Surabaya dan berencana menuju Singapura. Pesawat ini lepas landas dari Bandar Udara Internasional Juanda pada pukul 05:35 WIB (UTC+7) dan dijadwalkan untuk mendarat di Singapura pada pukul 08:30 WSS (UTC+8). Pesawat kehilangan kontak dengan pengatur lalu lintas udara pada pukul 07:00 waktu setempat saat sedang terbang di atas laut Jawa.

Dilaporkan banyak media, untuk menghindari awan tebal, pilot AirAsia QZ 8501 lapor dan minta izin ATC untuk belok ke kiri. ATC mengizinkan. Pilot kemudian minta izin naik dari 32.000 kaki hingga 34.000 dan 38.000. Belum ada konfirmasi atau persetujuan ATC, sinyal Airasia hilang. Komunikasi pilot dan ATC terputus. Tapi sinyal terakhir saat hilang pesawat itu konon  justru belok ke kanan.

Awan CB merupakan awan padat vertikal yang menjulang tinggi, mirip gunung atau menara, Kumulonimbus (Cumulonimbus) berasal dari bahasa Latin, "cumulus" berarti terakumulasi dan "nimbus" berarti hujan. Awan ini terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer. Awan ini dapat terbentuk sendiri, secara berkelompok dalam klaster-klaster, atau di sepanjang garis awan horiointal dan vertikal yang amat dingin di lapisan tropopause. Awan ini juga mampu menciptakan petir melalui jantung awan. selain itu hanya awan ini yang mampu menciptakan tornado atau badai petir. Awan kumulonimbus terbentuk dari awan kumulus (terutama dari kumulus kongestus) dan dapat terbentuk lagi menjadi supersel, sebuah badai petir besar dengan keunikan tersendiri. Awan cumulonimbus merupakan awan yang termasuk paling ditakuti oleh penerbang. Awan ini juga dipercaya sering membuat bencana, khususnya lalulintas udara.

Saat AirAsia QZ8501 dinyatakan hilang, BASARNAS dan KNKT didukung sejumlah pihak melakukan pencarian. Mereka berusaha menemukan pesawat dengan menjejak sinyal ELT (Emergency Locator Transmitter). Ternyata, sinyall  ELT  yang dibuat tahan banting dan tahan dalam banyak kondisi tak bisa dideteksi. Padahal alat navigasi darurat itu dalam keadaan ekstrim tak mudah rusak, baik oleh impact keras, terkena api ratusan derajat maupun dialam bersuhu dingin ekstrim hingga jatuh ke dalam laut lebih dari 500 meter, ELT bisanya masih dapat berfungsi dengan baik.

Di tengah hiruk pikuk mencari bangkai pesawat dan dibuk mengevakuasi korban manusia, dunia dihebohkan oleh pemberitaan sebuah blogger Cina Weibo. Seperti dilaporkan Epoch Times (ch | in), blogger misterius dari Cina telah memprediksi kecelakaan yang akan menimpa maskapai AirAsia sejak 15 Desember lalu atau 13 hari sebelum terjadinya tragedi ini. Orang-orang diperingatkan oleh sosok misterius ini untuk tidak memakai maskapai Malaysia apapun. Dan, entah kebetulan atau mereka percaya,  tak ada satu pun warga Cina ikut dalam penerbangan nahas itu. Pengguna misterius ini telah membuat total 39 postingan pada subjek dari hasil prediksinya dan telah dilihat oleh lebih dari 2.400.000 orang!

Awan CB merupakan awan padat vertikal yang menjulang tinggi, mirip gunung atau menara, Kumulonimbus (Cumulonimbus) berasal dari bahasa Latin, "cumulus" berarti terakumulasi dan "nimbus" berarti hujan. Awan ini terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer. Awan ini dapat terbentuk sendiri, secara berkelompok dalam klaster-klaster, atau di sepanjang garis awan horizintal dan vertikal yang amat dinginl. Awan ini juga mampu menciptakan petir melalui jantung awan. selain itu hanya awan ini yang mampu menciptakan tornado atau badai petir. Awan kumulonimbus terbentuk dari awan kumulus (terutama dari kumulus kongestus) dan dapat terbentuk lagi menjadi supersel, sebuah badai petir besar dengan keunikan tersendiri. Awan cumulonimbus merupakan awan yang termasuk paling ditakuti oleh penerbang. Awan ini juga dipercaya sering membuat bencana, khususnya lalulintas udara.

Tak kurang dari kantor berita Reuter mengaitkan jatuhnya pesawat AirAsia diduga karena menabrak awan CB. Pilot diduga melakukan manuver untuk melakukan langkah penyelamatan namun gagal menguasai medan. AirAsia QZ8501 melakukan manuver mendaki tajam sebelum akhirnya jatuh dan ditemukan di perairan Selat Karimata – Laut Jawa. Kantor berita ini juga mengutip pendapat pakai uji terbang FlaghtFocus Setyo Sopekarsono yang mengatakan bahwa pesawat tak akan bertahan dalam pusaran awan CB yang amat dingin dan bermuatan petir. Pesawat yang terjebak awan CB akan kehilangan ketingian dan keseimbangan sangat cepat sehingga jatuh.

Analisis cuaca yang dilakukan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menguatkan dugaan bahwa pesawat AirAsia QZ8501 gagal menghindari awan tebal kumulonimbus yang berada pada rute penerbangannya. Keberadaan awan kumulonimbus dalam pesawat jenis Airbus A320-200 tersebut sebelumnya dinyatakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG, Syamsul Huda, mengungkapkan bahwa sejak lepas landas dari Surabaya, AirAsia QZ8501 terbang dalam kondisi cuaca berawan. Saat sampai di wilayah antara Belitung dengan Kalimantan, pesawat menghadapi cuaca yang lebih buruk. Pesawat menghadapi awan yang sangat tebal di lokasi (antara Belitung dan Kalimantan). Berdasarkan data, ketinggian puncak awan kumulonimbus yang dihadapi pesawat 48.000 kaki. Menilik ketinggiannya saja, pesawat mungkin masih akan berhadapan dengan awan bila naik ke ketinggian 38.000 kaki. Namun, apakah pesawat bisa menghindar dari awan atau tidak, hal itu sangat tergantung pada besarnya awan itu sendiri.

Sedangkan menurut mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, masalah cuaca seperti awan adalah hal biasa yang dihadapi dalam penerbangan modern saat ini. “Sebelum terbang juga kita sudah mengisi flight plan dan melihat cuaca sepanjang jalur penerbangan. Pesawat A320 yang dipakai AirAsia sendiri adalah pesawat canggih yang sudah dilengkapi dengan radar cuaca yang baik,” ungkapnya seperti dikutip Indocropcircles.wordpress.com

Dengan teknologi dan perencanaan penerbangan yang baik, kasus pesawat hilang atau jatuh akibat faktor cuaca itu sudah jarang terjadi dalam penerbangan modern. Tetapi, lebih 14 abad lalu --jauh sebelum pesawat mengangkasa-- Allah SWT sebenarnya mengisyaratkan keberadaan awan CB tersebut. ''Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan lalu mengumpulkannya. Allah kemudian menjadikan awan-awan tersebut bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia juga menurunkan butiran-butiran es dari gumpalan-gumpalan awan yang besarnya bagaikan gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya butiran-butiran es itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatannya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.'' (QS An Nur (24):43). (dari berbagai sumber)

 
Pacu Inovasi, Kementerian Ristek Bangun Strategi Kebersamaan

Pacu Inovasi, Kementerian Ristek Bangun Strategi Kebersamaan

Sebagai upaya mensinergikan antara sisi penyedia dan sisi pengguna Iptek, Kementerian Riset dan... READ_MORE
Kamis, 01 Juli 2010 11:02
 Liliana Yetta Pandi, Dra

Liliana Yetta Pandi, Dra

  ... READ_MORE
Selasa, 16 Maret 2010 21:50
Asep Karsidi Jabat Kepala Bakosurtanal

Asep Karsidi Jabat Kepala Bakosurtanal

Menristek Suharna Surapranata hari ini melantik Dr. Asep Karsidi sebagai Kepala Badan Koordinasi... READ_MORE
Selasa, 15 Juni 2010 16:12
Siswa SD se-Jabodetabek Kunjungi PP IPTEK

Siswa SD se-Jabodetabek Kunjungi PP IPTEK

Jakarta : Pusat  Peragaan Iptek (PP-IPTEK) menjadi bagian program acara ”Ayo Ke Museum Bersama Ibu... READ_MORE
Kamis, 17 Juni 2010 16:07
Deteksi Jantung Melalui Treadmill Test

Deteksi Jantung Melalui Treadmill Test

Jakarta : Treadmill test hingga kini kerap diabaikan dalam proses medical check up penyakit jantung ... READ_MORE
Selasa, 15 Juni 2010 14:07
Goyangan Gempa di Jakarta Utara Lebih Terasa

Goyangan Gempa di Jakarta Utara Lebih Terasa

DKI diguncang gempa. Warga DKI Jakarta sontak panik. Untungnya, hal itu baru dugaan dari seseorang... READ_MORE
Senin, 06 Juni 2011 10:24
Biogas dari Limbah Tahu

Biogas dari Limbah Tahu

Kementerian Riset dan Teknologi melalui Program Pengendalian Dampak Perubahan Iklim membuat proyek... READ_MORE
Jumat, 14 May 2010 12:01
BPPT Mengganti Empat Deputi

BPPT Mengganti Empat Deputi

Jakarta : Empat pejabat Kedeputian Badan Pengkajian Penerapan Teknologi  (BPPT) diganti. Pelantikan... READ_MORE
Rabu, 16 Juni 2010 19:19

Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan

Ketahanan pangan selalu dikaitkan dengan masalah kekurangan gizi. Masalah kurang gizi ini bukan... READ_MORE
Selasa, 09 April 2013 10:39

2oo Pelajar Dikenalkan Budaya Iptek

Kementerian Riset dan Teknologi merangkul generasi muda untuk terwujudnya pengembangan  budaya iptek... READ_MORE
Senin, 29 Oktober 2012 11:50
Batan melantik Deputi PTDBR Baru

Batan melantik Deputi PTDBR Baru

                        Jakarta : Dr Djarot Sulistio Wisnusubroto dilantik sebagai Dep... READ_MORE
Kamis, 17 Juni 2010 15:03

Ini Dia, Sepeda Motor Berbahan Bakar Air Plus

Ternyata bukan isapan jempol air bisa menjadi bahan bakar. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU... READ_MORE
Rabu, 06 Juni 2012 15:15

BIG Dukung Kebutuhan Informasi Geospasial Tematik Kemenkokesra

Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Indroyono Soesilo mengatakan Kementerian... READ_MORE
Selasa, 27 November 2012 16:52

Anggota DPR RI Azwir Dainy Tara: Perhatian Pemerintah Masih Belum Maksimal

Minimnya anggaran yang tersedia untuk kegiatan Riset dan Teknologi (Ristek), menjadi salah satu... READ_MORE
Kamis, 21 Juni 2012 11:39
KLIBS Usung Anastesi Lokal untuk Bantu Orang Miskin

KLIBS Usung Anastesi Lokal untuk Bantu Orang Miskin

Dunia kedokteran sudah lama mengenal  anastesi lokal atau bius lokal. Namun penerapan bius... READ_MORE
Selasa, 05 April 2011 15:37
Titik Terang Mencari 'Bumi Tandingan'

Titik Terang Mencari 'Bumi Tandingan'

Setelah lima tahun mencari, peneliti NASA akhirnya menemuka dua planet yang paling mirip Bumi.... READ_MORE
Rabu, 07 Januari 2015 18:03
Indonesia Peringkat ke-3 Jumlah Penderita Hepatitis

Indonesia Peringkat ke-3 Jumlah Penderita Hepatitis

Jakarta : Indonesia menempati peringkat ketiga dunia setelah China dan India untuk jumlah penderita... READ_MORE
Rabu, 28 Juli 2010 16:09

Teknologi Aquaponik di Lahan Sempit

Upaya menambah luasan lahan pertanian sebagai solusi peningkatan ketahanan pangan masih menemui... READ_MORE
Selasa, 11 Februari 2014 13:01
BIT BPPT Dorong Tumbuhnya Teknoprenur baru

BIT BPPT Dorong Tumbuhnya Teknoprenur baru

Jakarta- Kurangnya fasilitas pemerintah dalam mendorong iklim usaha, regulasi yang menunjang dan... READ_MORE
Senin, 18 April 2011 10:19
Masyarakat Indonesia Kekurangan Air Bersih

Masyarakat Indonesia Kekurangan Air Bersih

Dari 92 daerah terluar di Indonesia, 64 diantaranya merupakan daerah sulit air bersih. Selain it... READ_MORE
Kamis, 15 Maret 2012 16:16

Umum

article thumbnail Ecodome, Wahana Baru di Kebun Raya Bogor
Rabu, 15 November 2017 | Setiyo Bardono

Ecodome, wahana baru di Kebun Raya Bogor (Foto Humas LIPI)   Technology-Indonesia.com - Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PKT...

Review

article thumbnail Kembali Menanti Energi Alternatif
Jumat, 19 Maret 2010

Hal itu, lanjut dia, semakin menaikkan ketergantungan Indonesia kepada BBM  untuk sektor transportasi. "Padahal, sekitar 60 persen BBM diserap sektor transportasi," ujarnya.

 
iklantechno
Kolom
article thumbnailTUNA SI PENGELANA LAUT PUN DIBIAKKAN DI KOLAM
12/02/2014 | Dewlest

Potongan-potongan cumi dan ikan layang bercampur dengan vitamin C dan vitamin E itu tiba-tiba lenyap diperebutkan puluhan ikan tuna sirip kuning yang terkenal tangkas dan gesit di laut.
Ikan-ikan t [ ... ]


Artikel Lainnya
Profil Peneliti
article thumbnailAmin Santosa Zarkasi, M.Sc, Ph.D
21/08/2010

Amin Santosa Zarkasi, M.Sc, Ph.D Kebumen, 17 Desember 1953 Bidang Keilmuan : MIPA Fisika Fisika Atom Bidang penelitian dijalani Amin Santosa Zarkasi sejak 1978. Awalnya, jebolan Fisika, Universitas [ ... ]


Profil Peneliti Lainnya
LOMBA UNTUK JURNALIS

Info Produk
Angket
Artikel Apa Yang Anda Sukai?
 
iklanmapiptek